Posted by: katabuku | May 4, 2010

Palestina Milik Siapa?

Subjudul: Fakta yang Tidak diungkapkan kepada Orang Kristen tentang Tanah Perjanjian; Penulis: Gary M. Burge; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2010

Israel memiliki pesona religius tersendiri di kalangan orang Kristen. Bukan hanya di Indonesia melainkan seluruh dunia. Setiap tahun agen-agen travel yang menangani wisata rohani ke Israel sibuk mengurusi para turis mancanegara yang ingin berkunjung ke Israel, “tanah perjanjian”. Yang tak kalah menarik adalah kesan-kesan rohani yang dibawa pulang para peziarah tersebut – yang dalam beberapa tampilan memperkuat fanatisme Israel sebagai umat pilihan Allah sebagaimana disebutkan dalam Alkitab.

Israel modern serta-merta dikaitkan langsung dengan identitas Israel kuno pada zaman alkitabiah. Wisata ke Israel seolah membangkitkan kembali memori-memori pengajaran guru sekolah minggu tentang peristiwa-peristiwa dalam Alkitab. Kita seakan dibius untuk melompati suatu rentang waktu dan pergolakan peristiwa yang membentang panjang dalam sejarah peradaban manusia. Nyaris tak ada orang yang bertanya: bagaimana sampai Israel modern bisa kembali ada di tanah Palestina?

Gary Burge mulai dengan pertanyaan itu. Tetapi tidak seperti buku-buku lain yang mengupas isu Israel/Palestina, buku ini didorong oleh kegelisahan dan dilema seorang Kristen Injili terhadap eksistensi negara Israel modern. Bagi Burge, persoalan Israel/Palestina tidak hanya menyentak kesadaran politik, historis, dan kultural, tetapi juga kesadaran teologis sebagai seorang Kristen.

Burge merasa sulit untuk mencermati dan memahami persoalan Israel/Palestina secara objektif, karena penamaan “Israel” telah melekat dalam keyakinan kristiani yang bertumbuh dalam proses pembacaan dan pemahaman Alkitab sejak ia kecil. Namun, pada sisi lain, sebagai seorang manusia, ia juga tidak mampu menutup mata dan keprihatinan terhadap penderitaan hidup rakyat Palestina semenjak berdirinya negara Israel modern pada 1948 (hlm. xv).

Salah satu persoalan yang menggelisahkannya ialah kenyataan makin bertambahnya jumlah pengungsi Palestina yang mendiami tempat-tempat pengungsian yang tak manusiawi. Menurut PBB, saat ini terdapat lebih dari 3,6 juta pengungsi Palestina yang tersebar di seluruh wilayah Tepi Barat, Gaza, dan negara-negara di sekitar Israel. Ada juga pengungsi yang bermigrasi ke negara-negara Barat seperti Australia dan Amerika Serikat. Sementara itu, dari 807 desa Palestina yang terdaftar pada 1945, hanya tersisa 433 desa yang masih berdiri pada 1967. Singkatnya, 45 persen desa Palestina telah dikosongkan dan dihancurkan demi terciptanya wilayah negara Israel. Karena Israel membutuhkan tanah, salah satu tujuannya adalah mengosongkan tanah tersebut dari penduduk Palestina (hlm. 53).

Meskipun dilengkapi dengan pemaparan sejarah yang lengkap dan eksplorasi data yang ketat mengenai fluktuasi konflik Israel dan Palestina, buku ini sebenarnya tidak ditulis untuk sejarawan akademis atau teolog terdidik, demikian pengakuan Burge. Malah, buku ini adalah buku praktis yang ditulis bagi orang Kristen kebanyakan, yang bergumul di tingkat paling pribadi dengan dilemma-dilema Israel-Palestina dalam kerangka teologi yang konservatif.

Burge menyadari bahwa sudah banyak karya tulis teknis yang rumit memberikan perhatian yang sangat besar pada masalah Israel/Palestina. Tujuan buku ini adalah menyaring karya-karya itu, menguraikan berbagai argumentasi utamanya, dan menyerapnya sebagai orang Kristen yang memiliki komitmen sepenuh hati pada “tanah suci” ini. Melalui buku ini Burge berharap dapat menyampaikan dua poin sederhana: [1] Jika Israel mengklaim tanah suci menurut janji alkitabiah, Israel harus memenuhi standar kebenaran nasional secara alkitabiah; [2] orang Kristen harus memandang lebih dekat pada komitmennya sendiri.

Buku patut dibaca oleh semua orang, bukan karena isinya menyenangkan semua orang. Sebaliknya, buku ini layak dibaca dan dihayati oleh semua orang karena isinya justru menggelisahkan semua orang untuk mencari jawab tentang masalah Israel-Palestina. Suatu situasi problematik yang langgeng karena bertahan dalam ketegangan antara iman dan realitas. Dengan membaca buku ini, setidaknya bagi Anda yang rindu berwisata rohani ke Israel, Anda makin paham bahwa wisata rohani Anda tidak akan menyenangkan dan menghidupkan kalau Anda tidak menguak sisi lain gemerlap Yerusalem dan Israel modern… sisi kemanusiaan rakyat Palestina yang terpuruk dalam lumpur derita berkepanjangan, nyaris tanpa keberpihakan. Anda di mana?

steve gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: