Posted by: katabuku | March 25, 2010

Semata-mata Keadilan

Subjudul: Visi Perdamaian Seorang Kristen Palestina; Penulis: Naim Stifan Ateek; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2009

Timur Tengah merupakan wilayah yang tak pernah berhenti bergolak. Tanah yang menjadi perjumpaan tiga agama besar (world religions) itu sekaligus menjadi ajang pertikaian dan pertumpahan darah yang tak kunjung usai. Kawasan panas tersebut telah menyedot perhatian dunia selama bertahun-tahun, terutama berkaitan dengan eksistensi Negara Israel modern dan hubungan antara Israel-Palestina.

Berlarut-larutnya konflik di kawasan tersebut telah mengarahkan pandangan dunia untuk turut memberi perhatian serius. Namun, hampir seluruh upaya yang dilakukan pada tataran nasional maupun internasional, bahkan melalui forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hanya mampu membuahkan hasil temporer dalam jangka waktu singkat. Selebihnya, kawasan tersebut masih terus disesaki oleh aroma anyir darah dan diselimuti asap tebal mesiu dari mesin-mesin perang yang digunakan untuk saling menghancurkan kemanusiaan dan peradaban di sana.

Masalah Israel-Palestina sangat pelik, sehingga tak mudah bagi orang yang hidup di luar kawasan itu untuk menelusuri dan memahami apa yang sebenarnya menjadi akarnya. Berbagai liputan dan analisis situasi Timur Tengah yang dilakukan oleh para cendekiawan dan pengamat asing setidaknya bermanfaat menuturkan realitas yang terjadi di sana secara interpretatif; tetapi jarang – kalaupun tidak ada – mampu menyingkapkan akar-akar masalah riel (kontekstual) konflik Israel-Palestina, hingga ke tataran refleksi teologis yang mendalam.

Buku Naim Stifan Ateek ini termasuk buku yang langka dan unik. Mengapa? Karena buku ini mampu membentangkan sebuah realitas lain dari berbagai wacana yang selama ini dikembangkan oleh para pengamat asing mengenai konflik Israel-Palestina. Dengan penuturan yang lugas dan jujur berdasarkan pengalamannya sendiri, dikemas dengan bahasa yang ringan tapi bermakna dalam, serta jauh dari kesan menuding “siapa salah, siapa benar”, Ateek mengajak kita untuk menelusuri liku-liku pergolakan Israel-Palestina dari perspektif seorang pendeta, seorang Kristen, seorang Arab, dan seorang warga negara Israel. Keempat identitas tersebut oleh Ateek dilihat sebagai persoalan eksistensial yang menggelayuti orang-orang Kristen-Palestina. Apalagi jika selalu diidentifikasi oleh parameter-parameter Barat yang peyoratif.

Persoalan Israel-Palestina berkembang menjadi konflik yang rumit karena melibatkan hampir seluruh dimensi kemanusiaan yang berada di Timur Tengah. Di sinilah, bagi Ateek, masalah Israel-Palestina menjadi suatu pergulatan teologis yang mesti diarahkan untuk mematahkan eksklusivitas kelompok-kelompok politik yang dengan sengaja memanfaatkan sentimen Islam [Palestina] vs Yahudi/Kristen [Yahudi]. Dampak polarisasi semacam itu kemudian menyebar dan memperluas atmosfer kebencian dari berbagai kelompok yang sebenarnya tidak terlibat langsung dalam konflik itu, tetapi turut tersulut secara emosional hanya berdasarkan sentimen keagamaan yang sempit. Kondisi inilah yang menyeret hampir seluruh dunia terperangkap dalam kutub-kutub pro- dan kontra-Israel atau Palestina.

Melalui buku ini, Ateek tidak hanya mengajak Anda menyelami situasi problematik yang mengguncang kawasan tersebut, tetapi juga membawa kita kepada suatu refleksi teologis-politis seorang Kristen-Palestina yang mencoba memaknai keruwetan masalah Israel-Palestina. Ateek, misalnya, dalam bagian akhir bukunya tiba pada suatu sikap politis bahwa penyelesaian konflik Israel-Palestina masih dimungkinkan dengan solusi ideal PLO: sebuah negara kesatuan dan demokratis bagi seluruh warga Palestina dan Yahudi. Bagi Ateek, solusi ini adalah solusi terbaik dan termudah untuk dilaksanakan (hlm. 194).

Melalui kajian yang komprehensif, buku Ateek ini menjadi sumbangan penting bagi upaya memahami dinamika konflik Israel-Palestina yang kompleks. Buku ini membongkar mitos-mitos dangkal bahwa Palestina adalah representasi dunia Islam versus Israel yang menjadi kaki-tangan dunia Barat. Itulah sebabnya kajian teologis Naim Stifan Ateek menjadi salah satu model teologi pembebasan yang khas, karena dikonstruksi dalam suatu konteks yang unik dan panas (hotspot).

Seluruh kekayaan data dan gaya penulisan bertutur menjadi hidup karena didasarkan pada pengalaman-pengalaman konkret Ateek, yang menjadi saksi hidup berbagai tragedi kawasan Israel-Palestina. Dengan demikian, buku Ateek ini layak menjadi bahan bacaan komparatif yang berkualitas tinggi bagi para pembaca yang ingin melihat segi lain konflik Israel-Palestina, yang kerap diberitakan secara bias dan tak seimbang oleh media massa nasional dan/atau internasional.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: