Posted by: katabuku | March 13, 2010

Aku Memahami Yang Aku Imani

Subjudul: Memahami Allah Tritunggal, Roh Kudus, dan Karunia-karunia Roh Secara Bertanggung Jawab; Penulis: Ebenhaizer I. Nuban Timo; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2009

Iman bertumbuh dalam dialektika antara “kepercayaan” dan “nalar”. Dialektika bukan hanya berarti “ketegangan” melainkan pula suatu proses korelasional yang saling menjembatani. Kepercayaan dan nalar itu sendiri berdialektika dalam menanggapi realitas kehidupan yang konkret dalam keseharian setiap orang, entah secara individual maupun sosial. Jika iman hanya dipahami semata-mata sebagai kepercayaan maka iman itu hanyalah sebentuk fanatisme buta yang kaku-beku. Tuhan yang dipercaya pun akan menjadi Tuhan yang kaku-beku terkungkung dalam seperangkat hukum ilahi yang wajib dilakukan tanpa toleransi dan pengertian. Sebaliknya, ketika iman hanya sebentuk rasionalisasi terhadap keyakinan kepada Tuhan, maka iman semacam itu tak lebih suatu pencarian akali yang sia-sia karena mengabaikan kedalaman misteri kehidupan dan semesta. Semuanya hendak disempitkan dalam kategorisasi nalar serta dipaksa untuk dimengerti, tetapi manusia kehilangan kepekaan untuk menghayati realitas seutuhnya.

Buku ini merupakan upaya penulis untuk merelasikan secara kreatif dan dialektis antara apa yang diimani dan apa yang dipikirkan, atau antara iman dan nalar. Di manakah titik singgung antara iman dan nalar tersebut? Jelas dalam buku ini penulis memperlihatkan bahwa realitas konteks sehari-hari yang dijalaninya merupakan arena kontestasi dalam mengejawantahkan iman dan nalar secara kreatif. Iman itu sendiri berpijak pada suatu fondasi sejarah dan tradisi gerejawi di mana penulis berada. Sementara nalar memikirkan dengan serius dan sistematis pergumulan kontekstual yang dihadapi masyarakat di mana penulis hidup bersama orang-orang lain.

Kekuatan utama buku ini adalah kemampuan penulis untuk secara konsisten merelasikan pemahaman imannya (dengan seluruh tradisi ajaran gerejawinya) dengan pergulatan konteks keseharian hidupnya dan masyarakatnya. Itulah yang membuat buku ini patut dibaca oleh setiap orang Kristen yang bertekad setia kepada iman dan tradisi gerejawinya tanpa menegasi akar-akar kontekstual kehidupannya di dunia. Hampir seluruh tulisannya yang dirajut dalam buku ini menggambarkan dengan sangat gamblang pergulatan tersebut.

Lihat saja bagaimana penulis mengelaborasi konsep Trinitas sebagai model kebhinekaan masyarakat. Konsep Trinitas yang nyaris sepanjang sejarah gereja menjadi bahan perdebatan tak berkesudahan oleh penulis coba untuk dijadikan pijakan memahami betapa realitas kemajemukan itu merupakan matra yang tak terhindarkan. Demikian penulis, “Ajaran Trinitas muncul dari pengalaman pergaulan manusia dengan Allah… Ia bermula dari pengalaman barulah menjadi doktrin. Dogma ini bersumber dari pengalaman manusia yang dipelihara oleh kasih Allah, kasih yang tidak melihat perbedaan-Nya dengan manusia sebagai sumber konflik atau perpecahan.”

Tulisan lain yang juga menarik untuk ditilik adalah bagaimana penjelasan penulis mengenai kontroversi baptisan – baptis selam atau baptis percik. Perdebatan mengenai model baptisan tersebut telah cukup menyita energi gereja-gereja sejagad. Bukan rahasia lagi bahwa perbedaan pemahaman dan tata cara baptisan ini telah meruncing bahkan menjadi bahan bakar yang memperluas konflik serta memecah-belah gereja-gereja. Di sini dengan sangat lugas penulis menyatakan bahwa “… semua bentuk baptisan (selam, siram, dan percik) dapat kita sebut alkitabiah dan sah. Ini dikarenakan keabsahan sebuah baptisan tidak terletak pada pencelupan atau pemercikan dalam air. Yang penting adalah ‘pencelupan dalam nama Tuhan Yesus’. Air dan bentuk baptisan bukan juru selamat dunia. Juruselamat dunia adalah Kristus…”

Tak berlebihan jika dikatakan bahwa penulis buku ini, Eben Nuban Timo, merupakan salah satu teolog Indonesia zaman ini yang sangat menaruh perhatian serius bagi proses pertumbuhan iman melalui ekspresi-ekspresi kebudayaan lokal. Buku ini merupakan suatu karya teologi kontekstual yang patut dibaca oleh setiap orang yang tertantang untuk memahami tradisi imannya sekaligus beriman dalam dinamika konteks kebudayaan masyarakat dan hidupnya sendiri sehari-hari. Coretan-coretan refleksinya yang sederhana dan mendalam dalam buku ini membuat kita makin menyadari bahwa beriman bukan cuma soal ke gereja dan berdoa (kendati keduanya amat penting), melainkan soal memahami karya Allah dalam sejarah dan hidup keseharian. Di situlah kita bertemu dengan Allah setiap waktu.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: