Posted by: katabuku | February 6, 2009

God’s Business

gods-busiines-stngah

Subjudul: Memaknai Bisnis Secara Kristiani; Penulis: Paul Stevens; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2009

Sudah cukup lama kebanyakan orang Kristen memandang dunia bisnis sebagai dunia yang “kotor” – hal yang sama juga bagi dunia politik. Pandangan tersebut dengan tegas membagi wilayah aktivitas orang Kristen menjadi wilayah sakral (kudus) dan wilayah profan (sekuler). Implikasi pandangan semacam itu cukup rumit, karena makin mempersempit ruang gerak orang Kristen dalam dua wilayah tersebut; atau mendangkalkan makna “bisnis” menjadi suatu aktivitas yang seolah-olah tak bermakna apa-apa. Tidak jarang banyak orang Kristen, akibat pengaruh pandangan semacam itu, lalu menganggap pekerjaan atau bisnis mereka sebagai dunia yang tak layak memberikan keselamatan lantas meninggalkannya untuk terjun dalam aktivitas penginjilan atau pelayanan gerejawi yang dianggap “kudus”.

Bertolak dari kekeliruan persepsi semacam itu – yang juga membentuk perilaku keliru – Paul Stevens mengulas aktivitas bisnis dari perspektif kristiani secara kritis dalam buku ini. Banyak orang berpendapat bahwa pekerjaan yang disebut sekuler hanya bernilai lahiriah, sedangkan pelayanan rohani dan pekerjaan menolong orang lain memiliki nilai hakiki sekaligus lahiriah. Stevens melihat bahwa di dalam Alkitab, setiap pekerjaan adalah “pekerjaan Allah” dan memiliki nilai hakiki yang tidak ditentukan oleh sifat keagamaannya atau bahkan dengan kenyataan pemakaian nama Allah secara terbuka.

Jika demikian, bagaimanakah menetapkan suatu pekerjaan sebagai “pekerjaan Allah”? Paul Stevens mengajukan sejumlah kriteria untuk itu.

1. Pekerjaan itu harus dimandatkan oleh Allah, yakni menjaga dan mengembangkan potensi penciptaan dan melayani manusia sebagai pengemban citra Allah. Dengan demikian, setiap pekerja melakukan “pekerjaan Allah” dalam mencipta, melestarikan, menebus, dan menyempurnakan;

2. Pekerjaan itu harus disesuaikan dengan rencana Allah, yakni menjadi manusia yang seutuhnya. Kita menjadi manusia seutuhnya melalui relasi dengan Allah, serta mampu membangun komunitas manusia dan komunitas beriman, dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa;

3. Pekerjaan itu harus dilakukan dengan kebajikan, dengan berbasis pada iman, pengharapan, dan kasih sebagai kebajikan utama;

4. Pekerjaan itu harus memiliki nilai yang kekal. Bukan pekerjaan yang rohaniah saja yang bersifat kekal. Yang kekal itu bukan karena iman, pengharapan, dan kasih, melainkan apa yang kita lakukan dengan iman, pengharapan, dan kasih.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, Makna, yang mencoba untuk mengembangkan suatu teologi tentang aktivitas bisnis. Jangan takut dengan teologi. Menurut William Perkins, “Teologi adalah ilmu pengetahuan tentang kehidupan yang diberkati selamanya.” Teologi yang baik adalah teologi yang praktis dan menyegarkan. Buku ini hendak menggali lebih jauh bisnis sebagai panggilan, pelayanan, pembangunan masyarakat, misi, dan globalisasi. Bagian kedua, Motivasi, membahas spiritualitas pasar, untuk mencari keutuhan, inspirasi, dan integrasi yang memberdayakan kita untuk memberikan yang terbaik, yang dicari Allah dalam keseluruhan hidup, serta member kontribusi menuju dunia yang lebih baik.

Buku ini bukan buku “panduan praktis” dalam kepemimpinan dan manajemen. Namun buku ini benar-benar mendorong beberapa keahlian terpendam dan spiritualitas yang dalam jangka panjang akan meningkatkan kemampuan suatu perusahaan. Jadi, buku ini sebenarnya adalah sebuah buku “mengapa itu terjadi?”; yang lebih banyak mengupas tentang “mengapa” daripada “bagaimana”.

Secara umum dalam bukunya ini, Paul Stevens hendak menyajikan:

  • Kerangka teologis bagi aktivitas bisnis (pasar);
  • Pemahaman tentang budaya perusahaan dan kewajiban untuk menumbuhkannya;
  • Penjelasan bagaimana iman berhubungan dengan jabatan, pekerjaan dan pelayanan di tempat kerja dan memberikan makna yang abadi serta memuaskan;
  • Perspektif bagaimana spiritualitas bukan hanya sekadar alat untuk mendongkrak motivasi para pekerja yang sedang lelah dan jenuh, tetapi menjadi sumber kreativitas dan kewirausahaan;
  • Perspektif yang memotivasi saat menghadapi dilema-dilema yang secara etis membingungkan;
  • Rencana untuk hidup secara kontemplatif di tengah tuntutan-tuntutan karier.

Hampir seluruh bab dalam buku ini menyertakan studi kasus dan pertanyaan-pertanyaan untuk bahan diskusi pada bagian akhir, yang dapat digunakan secara pribadi atau dalam kelompok belajar.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: