Posted by: katabuku | December 5, 2008

Lilin Pengharapan

Judul: Lilin Pengharapan
Penulis: Max Lucado
Penerbit: BPK Gunung Mulia

Apakah arti sebatang lilin? Anda tentu bisa menjawabnya tegas: memancarkan cahaya api di tengah kegelapan. Tetapi apakah lilin masih menjalankan fungsi itu, di tengah kerlap-kerlip lampu-lampu hias yang dialiri listrik ribuan volt atau bahkan di antara sorotoan cahaya laser warna-warni? Yah, nyaris lilin tak lagi berarti, kecuali memang aliran listrik sedang terputus. Itu pun fungsi “menerangi” kerap tergantikan dengan lampu petromax atau yang memakai baterei.

Namun, cukup mengherankan, kendati teknologi perlampuan sudah sedemikian canggihnya, lilin toh masih terus diproduksi. Dan, ini yang unik, orang tetap menggunakannya dengan suatu pembermaknaan yang berbeda. Lilin tidak lagi sekadar “menerangi” tetapi justru digunakan untuk memberi suasana temaram yang memberi nuansa romantis. Dalam berbagai liturgi ibadah, lilin juga tetap dipakai dengan simbolisasi tertentu, yang turut menghidupkan suasana kudus (sakral).

Di manakah kekuatan lilin? Jelas ada pada “cahaya” dan “api”. Tetapi juga
yang tidak bisa dilepaskan dari “energi” yang dilepaskan dari bahan baku
lilin itu sendiri, yang membuat nyala apinya mampu bertahan lama meskipun kecil. Kegelapan memang selalu lebih besar dari nyalanya. Kegelapan melingkupinya. Tetapi kegelapan tidak bisa memadamkan pijar apinya. Kegelapan ditaklukkan hanya oleh pijar kecil nyala api lilin yang meleleh.

Max Lucado mengawali kisahnya dalam buku ini dengan lilin. Bukan sembarang lilin, tetapi lilin yang memiliki kuasa tertentu. Bermula dari peristiwa datangnya sosok malaikat kepada pasangan suami-istri pembuat lilin, Edward Haddington dan Bea. Dalam ketakutan mereka melihat malaikat itu menyentuh sebatang lilin. Lilin itulah yang keesokan harinya dalam kebaktian Minggu Adven di gereja diberikan kepada seorang janda yang jatuh miskin. Bea memberikan uang receh dan lilin yang disentuh oleh malaikat semalam, sambil berujar, “Nyalakanlah lilin ini dan berdoalah.”

Pada kebaktian Malam Natal, ketika diberikan kesempatan kepada setiap
anggota jemaat untuk berbagi kesaksian, janda miskin itu maju. Janda itu
tidak lagi nampak lusuh dan kelaparan seperti sebelumnya. Ia bercerita
bahwa ia telah mendapatkan warisan dari pamannya yang kaya; itulah berkat Tuhan baginya. Mengakhiri kesaksiannya, perempuan itu menatap kepada Ed dan Bea sambil berkata, “Saya berdoa. Saya menyalakan lilin dan berdoa.” Sejak saat itulah perjalanan hidup Ed dan Bea adalah perjalanan berbagi pengharapan melalui lilin-lilin yang disentuh oleh malaikat.

Dengan ringan dan menyentuh, Lucado mengajak kita hanyut dalam alur narasi Ed dan Bea, yang merasa terpanggil untuk membagikan harapan-harapan hidup dengan lilin-lilin yang mereka buat. Namun nampaklah bahwa menyalakan lilin dan berdoa menjadi simbol kekuatan hidup yang menyatu membentuk suatu daya tahan beriman: berdoa sambil terus menyalakan pengharapan.

Berdoa bukanlah kepasrahan, tetapi suatu pengharapan yang terus menyala.
Pengharapan yang kelihatannya nyaris dikalahkan oleh kegelapan masalah
hidup, tetapi pijarnya – sekecil apapun – justru menjadikan kegelapan
tidak berarti lagi. Dalam kegelapan semacam itulah, nyala lilin menjadi
sebuah panduan… yang membuat hidup tidak berhenti berharap. Hidup kita
adalah lilin pengharapan. Jangan sampai padam!


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: