Posted by: katabuku | October 10, 2008

Memberi dengan Sukacita

Subjudul: Teologi dan Tafsir Persembahan; Penulis: Pdt. Dr. Ulrich Beyer dan Pdt. Evalina Simamora, S.Th.; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2008

Kalau Anda adalah anggota jemaat dari suatu gereja, Anda tentu tidak asing dengan istilah “kolekte” atau “persembahan”. Beberapa waktu lalu sempat terjadi kehebohan ketika terdengar rumor ada gereja yang menerapkan sistem pemberian persembahan melalui credit card. Lalu bermunculan berbagai respons pro dan kontra. Persoalan utama yang muncul adalah seputar bagaimana memaknai “pemberian persembahan” secara teologis? Apakah mekanisme pemberian persembahan itu bisa “dikontekstualisasikan” sesuai dengan spirit zaman modern? Sebenarnya siapakah penerima sejati dari persembahan yang diberikan dalam ibadah-ibadah gereja selama ini?

Persoalan persembahan dan sejumlah masalah aktual yang berkaitan dengannya ternyata perlu mendapat perhatian serius dari gereja-gereja. Pengumpulan persembahan memang merupakan salah satu unsur liturgis dalam peribadahan gerejawi. Sebagian besar persembahan yang diberikan adalah dalam bentuk uang, meskipun di beberapa gereja – terutama yang berada di wilayah pulau-pulau kecil dan/atau pedalaman – anggota jemaatnya memberikan persembahan dalam bentuk hasil panen ladang atau kebun mereka. Biasanya hasil panen itu kemudian diuangkan untuk mendukung program-program pelayanan jemaat yang bersangkutan, terutama untuk membantu anggota jemaat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Kedua penulis buku ini menyajikan suatu tafsiran teologis tentang persembahan yang dikaji secara khusus pada Surat 2 Korintus 8 dan 9. Sekilas kedua surat itu bermaksud menata organisasi kegiatan pengumpulan dana yang kemudian kita pahami sebagai persembahan atau kolekte. Ada lima pokok bahasan yang tersaji dalam buku ini:

  • 1. Uraian mengenai masalah-masalah historis-kritis tentang pengumpulan sumbangan yang diprakarsai Paulus dalam jemaat-jemaat Helenis (bukan Yahudi) selama satu setengah tahun dengan penuh kesungguhan dan ketekunan guna mencukupkan jemaat induk Yahudi di Yerusalem, yang kebanyakan miskin.
  • 2. Tafsiran Surat 2 Korintus 8 dan 9. Dengan penekanan pada aspek teologis, di sini akan disajikan dasar-dasar teologis dari persembahan, yang bertumpu pada penyerahan diri Yesus Kristus. Kasih karunia Allah yang berlimpah ruah dalam diri Yesus Kristus direspons oleh para penerima dengan persembahan ucapan syukur serta puji-pujian kepada Allah.
  • 3. Peristiwa rohani ini mendorong terjalinnya hubungan yang erat antara jemaat-jemaat misi (hasil pekabaran Injil) Paulus dan jemaat induk di Yerusalem, yang sekaligus menjadi teladan untuk persekutuan gerejawi yang hangat dan matang.
  • 4. Melalui kajian teologis dan historis, dalam buku ini juga akan tampak bahwa betapa eratnya hubungan antara iman kepercayaan kepada Yesus Kristus dengan pemberian persembahan. Karena ucapan syukur dan pemuliaan Allah merupakan tujuan segala pemberian jemaat (eukharistia – kata yang mengandung arti kharis = anugerah atau karunia), maka persembahan mendapat tempat yang tetap dalam ibadah jemaat dari dulu sampai saat ini.
  • 5. Memperkenalkan cara-cara member persembahan – dan derma-derma lainnya – dalam jemaat Kristen masa kini, yang berorientasi pada nasihat-nasihat Paulus yang konkret.

Buku ini menggali aspek-aspek historis dan teologis tentang “pengumpulan dana” yang kemudian menjadi cikal-bakal akta persembahan syukur dalam tradisi kristiani sampai saat ini. Dengan penjelasan yang mendalam, buku ini dapat menjadi salah satu acuan bagi orang Kristen agar tidak hanya memahami persembahan semata-mata sebagai tindakan “mengumpulkan uang”. Lebih jauh, dengan membaca uraian demi uraian dalam buku ini, kita dapat mengetahui latar sejarah tindakan Paulus mengumpulkan dana pada saat itu (menurut catatan 2 Korintus 8 dan 9), serta pendasaran teologisnya yang menjadi alasan utama bagi setiap orang Kristen untuk memberikan persembahan. Sehingga dengannya semoga kita tidak lagi diombang-ambingkan oleh rupa-rupa ajaran “calo-calo” Alkitab yang sengaja memanfaatkan pemberian persembahan jemaat untuk kepentingan diri sendiri dan memperkaya diri dan/atau keluarga mereka sendiri.

steve gaspersz

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: