Posted by: katabuku | October 10, 2008

Ada Waktu Menggampar, Ada Waktu Mengelus

Subjudul: Kumpulan Khotbah Jenaka Pdt. L.Z. Raprap; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2008

“Pak Pendeta, boleh tidak kita berdoa sambil berbaring?” seseorang bertanya kepada saya. Saya menjawab: “Bagi Tuhan sih enggak apa-apa Bapak berdoa sambil tidur, sambil jungkir balik. Yang Tuhan lihat adalah hati… Hanya saja, bagi Bapak sendiri, itu bisa terjadi apa-apa.” “Terjadi apa Pak Pendeta?” ia bertanya lagi… “Kalau Bapak capek dan terus berbaring, bisa-bisa tidak ada ‘amin’-nya. ‘Amin’-nya bisa nyambung besok pagi. Itu berarti ‘doa tidur’ dan ‘doa bangun’ digabung menjadi satu.”

Kalimat-kalimat di atas merupakan kutipan dari salah satu khotbah Pdt. Luther Z. Raprap. Beliau memang dikenal sebagai seorang pendeta yang mampu meramu khotbah-khotbahnya dengan ilustrasi-ilustrasi yang segar dan mengena dengan kehidupan sehari-hari. Teks-teks Alkitab yang kadang-kadang sulit dimengerti di tangan Pdt. Luther Raprap dapat menjadi sajian khotbah yang menarik dan jenaka. Tentu saja, tanpa membuat makna teks dan pola khotbah komunikatifnya menjadi kedodoran.

Buku ini merupakan kumpulan khotbah lisan beliau yang disatukan agar bisa dinikmati dalam bentuk tertulis oleh kalangan yang lebih luas. Memang tidak mudah menuangkan dan menyajikan ekspresi-ekspresi lisan ke bentuk tulisan. Oleh karena itu, di sana-sini pembaca akan menemukan banyak sekali berbagai ekspresi lisan yang coba untuk “dibunyikan” dalam wujud tulisan. Dan di situlah letak keunikan buku ini.

Ekspresi lisan yang hendak “dibunyikan” itu sengaja dipertahankan sedapat mungkin sehingga buku ini tidak hanya menjadi sebuah reading (bacaan) tentang khotbah yang ditulis, tetapi sungguh-sungguh dapat mempertahankan esensinya sebagai preaching (khotbah). Nuansa-nuansa situasional dan “gaul” yang terungkap dalam pernyataan-pernyataan Pdt. Raprap membawa setiap pembaca untuk menikmati buku ini sebagai khotbah yang dapat kita “dengar” setiap hari.

Di balik ungkapan-ungkapannya yang kocak dan ilustrasi-ilustrasinya yang segar, Pdt. Raprap menyingkapkan suatu kenyataan teologis bahwa melalui peristiwa-peristiwa keseharian kita – dengan berbagai peran dan profesi – kita dapat merasakan dan menghayati Firman Tuhan yang menyapa dan menyentuh kita. Pesan-pesan iman dari Alkitab yang dikupas melalui khotbah ibadah Minggu, menjadi aliran-aliran sungai iman yang menyegarkan kehidupan kita setiap hari. Itu bukan karena khotbah pendetanya yang “bagus”, melainkan karena kita memahami hakikat khotbah sebagai pengajaran iman yang membantu kita menemukan kasih, teguran, dan ajaran Allah melalui pengalaman-pengalaman hidup yang paling lazim setiap hari. Dengan demikian, khotbah tidak lagi menjadi salah satu pelengkap liturgis dalam ibadah di gereja, tetapi menjadi media pembelajaran Firman Tuhan untuk dihayati dan dilakukan secara praktis dan aktual.

steve gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: