Posted by: katabuku | July 29, 2008

Kanker Bukanlah Akhir dari Segalanya

Penulis: Phyllis Ten Elshof; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2008

Fase-fase kehidupan kerap kita jalani begitu saja. Hidup mengalir mengikuti sungai waktu. Berjalan begitu saja. Tidak semua yang kita rencanakan dapat terwujud secara tepat. Bahkan banyak yang tidak rencanakan dan harapkan terjadi dan mengubah orientasi hidup kita seterusnya. Sesuatu yang bisa kita antisipasi, tetapi sering tidak mampu dihindari. Penulis buku ini menuturkan realitas aliran hidupnya dengan sangat lugas dan gamblang. Ia mendapati hidupnya dicengkeram ketakutan akan masa depan karena penyakit kanker limfoma yang dideritanya.

Namun dalam ketidakberdayaan fisik dan nyaris putus pengharapan, ia mengalami titik balik dalam hidupnya. Ia memang tidak sembuh total, tetapi ia menemukan kembali keberaniannya untuk menjalani hidup dengan penyakit kankernya. Ia berjuang melepaskan belenggu kanker yang membuat semangatnya terpuruk, dan dengan lantang bangkit untuk melawan ketakutan yang membunuh semangat hidupnya – kanker bukanlah akhir dari segalanya.

Dalam setiap detil penanganan sakit kanker yang dideritanya, ia selalu melakukan refleksi iman dengan menghayati pesan-pesan alkitabiah melalui cerita atau tokoh dalam Alkitab. Ia tidak menggerutu dalam frustrasi atas kondisi tubuhnya yang makin ringkih setelah menjalani pengobatan kemoterapi selama beberapa waktu. Lihat saja bagaimana ia mencoba menghayati kerontokan rambut sebagai efek samping kemoterapi: ”Tak bisa dipungkiri bahwa saya botak. Dan saya tak dapat melakukan apa pun untuk mengatasinya. Kita tentu ingat cerita tentang Samson yang pada suatu pagi bangun tanpa rambutnya. Kekuatan dan segala kekuasannya lenyap seketika. Mungkin kita memiliki perasaan yang mirip seperti ini saat pertama kali harus berhadapan dengan kepala yang gundul… Namun, kita bisa mengandalkan Allah… Dia mengetahui jumlah helai rambut di kepala kita… Jika Allah begitu peduli mengenai rambut di kepala kita, kita bisa percaya bahwa Dia peduli pada kita. Dan tidak ada – termasuk kanker – yang bisa memisahkan kita dari kuasa Tuhan yang penuh kasih.”

Buku ini mengajak kita, semua orang, untuk menghayati pengalaman-pengalaman hidup baik yang menyenangkan maupun menyakitkan sebagai perjalanan bersama Allah. Pengalaman-pengalaman hidup tersebut hanya dapat dimaknai dalam percakapan bersama dengan Allah di sepanjang perjalanan hidup kita. Buku ini menyajikan kepada kita suatu dialog kehidupan bersama Allah. Dalam dialog itu kita menemukan kasih Allah yang mengalir tanpa henti, kendati terhalang oleh batu-batu sungai hidup kita.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: