Posted by: katabuku | May 9, 2008

Women Who Stay with Men Who Stray

Kisah-kisah Perempuan yang Bertahan dalam Perkawinan

Penulis: Debbie Then; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2008

Buku ini menceritakan kisah-kisah intim perselingkuhan kaum laki-laki, dan bagaimana para perempuan mengetahuinya. Di dalamnya kita menemukan alasan-alasan pribadi, sosial dan keuangan yang menyebabkan para perempuan bersedia bertahan dengan pasangan mereka yang menyeleweng. Juga bagaimana hubungan di luar nikah yang dilakukan oleh para perempuan dapat menolong mereka mengatasi masalah perselingkuhan para suami, dan biaya emosional yang harus dibayar oleh seorang istri karena tetap bertahan dengan suaminya.

Perselingkuhan sering kali menjadi sebuah efek samping dari banyak pernikahan. Hal itu tampaknya tidak mungkin berubah dalam beberapa tahun ke depan. Perselingkuhan adalah aib dalam hidup bermasyarakat yang tidak akan hilang hanya karena kita mengharapkannya demikian. Itu sebabnya berkonsentrasi semata-mata pada “merebut kembali pasanganmu dari perempuan lain” hanya menjadi upaya sia-sia yang dilakukan kaum perempuan, karena para laki-laki tidak akan pernah berhenti menyeleweng.

Yang pasti selalu terjadi adalah laki-laki dan perempuan akan selalu tertarik satu terhadap yang lain. Cukup banyak di antara mereka yang bertindak berdasarkan daya tarik tersebut, walaupun salah seorang ataupun keduanya telah menikah. Dalam banyak pernikahan, perselingkuhan telah menjadi sebuah gaya hidup. Memang bukan gaya hidup yang baik, namun toh merupakan hal yang biasa.

Para perempuan menunjukkan reaksi yang berbeda-beda terhadap perselingkuhan suami mereka. Beberapa tampaknya menyerah pada keadaan, sementara yang lain menolak dan berusaha menentangnya setiap saat. Karena pada umumnya masyarakat tidak dapat menerima pernikahan yang terbuka terhadap hubungan seks di luar nikah, seorang laki-laki harus berdusta pada istrinya dan melakukan hubungan gelap tersebut secara hati-hati. Tentu saja hal ini membuat para perempuan merasa sedih dan terhina.

Perselingkuhan merupakan topik yang menarik perhatian banyak orang, namun tidak banyak yang ingin membicarakannya secara terbuka. Bahkan pada pasangan yang menikah, hanya sedikit suami-istri yang dapat berbicara satu sama lain mengenai perselingkuhan, seakan-akan hanya dengan membicarakannya saja dapat menimbulkan saling tuduh dan curiga di antara mereka. Pada pihak lain, perselingkuhan merupakan topik percakapan yang menakutkan, khususnya bagi para perempuan, karena mereka cemas bahwa setiap bentuk percakapan mengenai hal ini akan mengarah pada perceraian.

Kaum perempuan umumnya tidak tahu harus minta tolong kepada siapa ketika mereka menghadapi masalah perselingkuhan dalam pernikahan. Mereka jarang mendapat dukungan dari keluarga, teman dan masyarakat. Bahkan, para perempuan didorong untuk bertahan dengan suami mereka, tanpa mempedulikan pengorbanan yang harus mereka tanggung akibat kondisi sosial seperti itu. Ada pemikiran tradisional dalam masyarakat bahwa kalau seorang suami bukanlah pemabuk, punya pekerjaan tetap dan tidak memukuli istrinya, maka sang istri sebaiknya memaafkan dan melupakan perselingkuhan yang dilakukannya. Sesungguhnya para perempuan berhak memperoleh lebih dari itu dari seorang suami – dan dari sebuah pernikahan. Hidup merupakan sesuatu yang berharga – terlalu berharga bagi seorang perempuan untuk disia-siakan dengan seorang suami yang suka menyeleweng.

Agar dapat sepenuhnya memahami mengapa kaum laki-laki berselingkuh dan kaum perempuan tetap bertahan, mula-mula harus dipahami standar ganda mengenai seks, penampilan, proses penuaan dan pernikahan yang berlaku dalam masyarakat kita. Penampilan, nafsu, cinta, seks dan uang semuanya memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap terjadinya pengkhianatan dalam pernikahan – dan mengapa para perempuan bertahan dengan suami mereka yang berselingkuh.

Dalam buku ini Debbie Then tidak menilai seorang perempuan sebagai seorang suci atau orang tolol karena bertahan dengan pasangannya yang menyeleweng. Penyelewengan semata-mata merupakan bagian dari gaya hidup masa kini, dan buku ini secara realistis hendak memandang masalah yang menyentuh begitu banyak pernikahan serta meletakkan beban sangat berat pada kaum perempuan.

Sesungguhnya kaum perempuan memiliki banyak pilihan dan lebih banyak kendali terhadap hidup mereka daripada yang mereka bayangkan. Sekali saja seorang perempuan menyadari bahwa upaya untuk membuat pernikahannya “tahan godaan” adalah sia-sia, ia akan dapat menyalurkan tenaganya untuk membangun dan mengembangkan hidup sesuai kriterianya sendiri – hidup yang membuat bahagia, yang tidak terpengaruh oleh kondisi pernikahannya.

Melalui halaman-halaman buku ini Then menyajikan penuturan lebih dari 100 orang laki-laki dan perempuan mengenai kisah-kisah mereka, termasuk hal-hal rinci yang bersifat intim dalam pernikahan mereka, kehidupan seks dan berbagai bentuk perselingkuhan. Jika Anda merasa prihatin mengenai masalah perselingkuhan yang menyentuh pernikahan Anda, buku ini akan menolong memahami bagaimana masyarakat mendorong kaum laki-laki untuk menyeleweng, dan meminta kaum perempuan untuk bertahan dengan mereka.

Buku ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian I (bab 1-7) membicarakan dasar-dasar sosial yang menyebabkan terjadinya perselingkuhan. Bagian II (bab 8-11) menghadirkan kisah-kisah para perempuan yang telah memilih untuk bertahan dengan suami mereka, mendiskusikan mengapa mereka melakukannya dan bagaimana mereka mengatasi hal itu hari demi hari. Bagian III (bab 12-16) melukiskan konsekuensi yang harus dihadapi seorang perempuan yang memilih untuk bertahan dengan suami yang tidak setia, serta menyajikan cerita-cerita mengenai penyelewengan yang dilakukan oleh orang-orang kaya dan terkenal. Bab-bab ini juga menawarkan saran dan nasihat bagi para perempuan yang mencoba untuk memperoleh kembali rasa percaya diri mereka dan membangun sebuah kehidupan yang baru. Buku ini memberitahu Anda kehidupan seperti apa yang dimiliki oleh perempuan yang menikah dengan laki-laki tidak setia, dan menjelaskan bagaimana membangun sebuah impian baru bila hidup seperti itu memang bukan untuk Anda.

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: