Posted by: katabuku | March 28, 2008

The Living Church

 

livingchurch-75.jpg

Subjudul: Menanggapi Pesan Kitab Suci Yang Bersifat Tetap Dalam Budaya Yang Berubah; Penulis: John Stott; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2008

Di sepanjang sejarahnya, gereja bertumbuh dan berkembang dalam konteks rielnya. Kesulitan dan tantangan, pertumbuhan dan penyebaran, pembangunan jemaat dan perpecahan internal selalu menjadi bagian dari narasi eklesiologis pada tanah tempat “gereja” hidup dan pada waktu ketika “gereja” berproses.

Apa yang mencolok saat ini ialah kritik yang keras terhadap kevakuman gereja dalam membangun dirinya secara kreatif dalam tantangan zaman yang terus berubah. John Stott mencatat bahwa meledaknya buku-buku eklesiologis kontemporer saat ini lebih didorong oleh perasaan bahwa gereja makin lama makin tak seirama dengan budaya kontemporer. Jika gereja tidak mampu mengimbangi perubahan zaman, gereja [sedang] menghadapi kepunahannya.

Tendensi postmodernisme – yang dipahami sebagai protes melawan gerakan intelektual modernisme – oleh Stott dilihat telah memberi kesempatan-kesempatan baru bagi Injil. Namun demikian, tetap dibutuhkan pemilahan-pemilahan tertentu.

Bagi John Stott, gereja-gereja, baik yang tradisional maupun yang sedang “bangkit”, perlu mendengarkan satu sama lain secara lebih baik, untuk belajar dari yang lain. Yang lama harus mengenali bahwa banyak dari yang sekerang dikenal sebagai tradisional dulunya juga bersifat revolusioner dan bahkan “sedang bangkit”. Karena itu mesti terbuka untuk cara berpikir kreatif masa kini. Yang terkemudian harus waspada terhadap sikap menyukai kebaruan demi kebaruan itu sendiri. Kita sendiri perlu berusaha untuk mengurangi rasa curiga, mengurangi rasa benci satu terhadap yang lain dan lebih menghormati serta terbuka.

Berhadapan dengan kenyataan itu, menurut John Stott, kita memerlukan gereja yang lebih “konservatif-radikal”. “Konservatif” dalam arti memelihara (conserve) segala sesuatu yang dituntut oleh Alkitab, tetapi “radikal” dalam kaitan dengan kombinasi antara tradisi dan kesepakatan yang disebut budaya. Oleh karena itu, melalui bukunya ini John Stott mengulas sejumlah ciri dari gereja yang otentik atau gereja yang hidup.

Stott mengawali uraiannya dengan meletakkan pemahaman mengenai visi Allah untuk Gereja-Nya. Stott melihat bahwa orang Kristen sebenarnya mempunyai dua komitmen, yakni komitmen kepada Kristus dan komitmen kepada tubuh Kristus (gereja), sehingga orang Kristen tanpa gereja sebenarnya merupakan anomali. Oleh karena itu, orang Kristen selalu bergerak secara kreatif dalam dua arah: satu pihak, dipanggil keluar dari dunia untuk menjadi milik Allah, dan di pihak lain diutus kembali ke dunia untuk menjadi saksi dan untuk melayani.

Dalam bagian pertama mengenai visi, Stott menyebutkan empat pokok sebagai ciri-ciri gereja yang hidup:

(1) Gereja yang belajar (KPR 2:42) – Orang-orang Kristen mula-mula tidak mengandaikan bahwa karena mereka telah menerima Roh Kudus sebagai satu-satunya “guru”, maka mereka dapat mengesampingkan guru-guru manusia. Mereka malah bersemangat mendengarkan pengajaran para rasul.

(2) Gereja yang mengasihi – orang-orang Kristen mula-mula menunjukkan pola hidup persekutuan yang saling mengasihi. Secara khusus, mereka mengasihi dan memperhatikan saudara-saudari yang miskin dan karena itu berbagi kekayaan dengan mereka.

(3) Gereja yang beribadah – ibadah gereja perdana bersifat baik penuh kegembiraan maupun kekhidmatan. Sukacita dan khidmat harus menjadi ciri ibadah kristiani.

(4) Gereja yang mengabarkan Injil – gereja perdana bukanlah komunitas yang hidup di dalam ghetto. Mereka tidak hanya memikirkan urusan sendiri, tetapi juga menyebarkan pengajaran kristiani kepada orang lain. Tindakan tersebut didasarkan pada tindakan pelayanan Yesus yang menyampaikan pengajaran ke banyak tempat dan kepada banyak orang, serta mengajak orang lain untuk terlibat dalam kehidupan persekutuan gereja perdana itu.

Dengan landasan keempat ciri gereja yang hidup itulah John Stott membedah satu demi satu makna tindakan gereja dalam perkembangan zaman ini. Semuanya terurai dengan sederhana namun padat dalam bagian-bagian: ibadah, pemberitaan, pelayanan, persekutuan, berkhotbah, persembahan, dampak (garam dan terang).

Melalui bukunya ini, John Stott mengajak pembaca untuk merefleksikan kembali makna dari setiap tradisi yang selama ini telah membentuk wajah gereja. Dengan refleksi kontemporer tersebut setiap pembaca – dan tentu saja warga gereja – menemukan kembali spirit untuk bertumbuh dalam gerejanya sendiri tanpa merasa perlu mencari gereja lain yang lebih “modern” (kelihatannya). Karena, betapapun, gereja di sepanjang sejarah selalu merupakan upaya mengombinasikan secara kreatif aspek-aspek tradisional dan kontemporer, yang semuanya bermuara pada pertumbuhan spiritualitas orang-orang Kristen dalam dunia yang berubah pesat.

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: