Posted by: katabuku | February 28, 2008

Pemikiran Sosial Johannes Leimena tentang Dwi-Kewargaan di Indonesia

Subjudul: Suatu Cara Pandang Sosial Politik dan Sosial Etis menurut Perspektif Kristiani dalam Konteks Masyarakat Pluralis; Penulis: Flip P.B. Litaay; Penerbit: Satya Wacana Christian University Press bekerja sama dengan Program Pascasarjana Program Studi Sosiologi Agama UKSW Salatiga 2007.

Sebagai seorang dokter yang berhasil menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia, pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), salah seorang pendiri Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan sebagai salah seorang awam yang berhasil menjadi salah satu Ketua Dewan Gereja-gereja Indonesia (DGI), sosok Dr. Johannes Leimena adalah fenomenal. Tetapi bukan itu saja. Dia fenomenal karena dalam kehidupan satu republik seperti Indonesia yang majemuk dengan dua mayoritas, yaitu Jawa dari sisi suku dan Islam dari sisi agama, seorang Ambon yang beragama Kristen, yang dalam konteks itu “memikul” minoritas ganda, ia berhasil mendapat kepercayaan menjadi pejabat presiden sampai tujuh kali dalam sejarah republik ini. Menurut Prof. John Titaley, sudah tentu hal ini hanya bisa terjadi karena ada yang mempercayainya dan hukum memungkinkannya. Yang mempercayainya dan hukum yang memungkinkannya itu adalah kombinasi dari kebesaran jiwa manusia pembuat dan penegak hukum itu, sehingga membuat bangsa ini menjadi bangsa yang besar.

Kepercayaan yang diperoleh Jo Leimena bukanlah suatu hasil political-game yang praktis-amatiran belaka. Kharisma politiknya dibangun di atas pilar komitmen kebangsaannya dan juga pemikiran politiknya mengenai hakikat keindonesiaan. Apa yang menjadi dasar kekuatan kedua pilar tersebut tidak lain adalah keyakinan imannya sebagai seorang Kristen Indonesia. Gagasannya mengenai “kewarganegaraan yang bertanggung jawab” atau “dwi-kewarganegaraan” (double citizenship) telah memengaruhi perspektif gerakan pemikiran politik dan partisipasi sosial-politik orang-orang Kristen di Indonesia. Pemahamannya bahwa politik adalah “etika untuk melayani” secara radikal telah mendekonstruksi adagium politik sebagai “seni merebut dan melanggengkan kekuasaan” semata-mata. Bingkai pemikiran semacam itu menjadikan politik sebagai medan pelayanan bagi kemanusiaan sejati.

Buku ini merupakan disertasi Flip Litaay yang bertujuan menjelajahi perilaku kewargaan rangkap yang sepatutnya dari orang Kristen dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk dan sekaligus membandingkan serangkaian persamaan dan perbedaan konsep sosial-etis Leimena tentang kewargaan rangkap, baik dengan konsep dualisme kewargaan ganda Agustinus maupun dengan dwi-kewargaan H. Richard Niebuhr. Dengan penelusuran wawasan sosio-politik Jo Leimena tentang double citizenship perhatian kita hendak diarahkan agar tidak hanya terbatasi oleh wacana menyangkut signifikansi sebuah masyarakat demi masyarakat semata-mata, tanpa mempertimbangkan implikasinya pada identitas suatu “bentuk dan dasar negara” yang menjadi kepentingan warganya.

Persoalan yang dihadapi generasi Leimena ketika itu adalah bagaimana orang Kristen Indonesia pascakolonial mampu mengartikulasi kehadiran historis mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat dan negara-bangsa Indonesia sejak awal, dan ikut serta melaksanakan tanggung jawab mereka dengan cara memberikan respons yang tepat pula. Menurut Jo Leimena, “Indonesia sebagai sebuah ‘kenyataan yang berdiri sendiri’ (zelfstandig werkelijkheid) sebenarnya tidak ada; yang ada ialah bangsa. Karena negara adalah suatu organisasi dan suatu fungsi daripada bangsa.” Ini suatu konstruksi pemikiran Weberian yang mengandaikan eksistensi negara hanya bisa digambarkan sebagai ada, semata-mata karena signifikansi kehadiran dan peran para individu, yang sarat dengan nilai-nilai pemaknaan subjektif masing-masing. Yang hendak ditekankan di sini adalah bahwa pada hakikatnya proses “menjadi Indonesia” secara filosofis adalah identika dengan upaya terus-menerus dari ‘setiap individu dan kelompok warga negara’, dari mana pun asal-usulnya guna menemukan kebersamaan perilaku sosial-etis dalam kehidupan publik.

Oleh sebab itu, secara sosiologis gerejawi kehadiran kristiani di negeri ini hendaknya dipandang sebagai sebuah ‘karunia’ (Gabe), demi memperkuat sendi-sendi pluralisme itu. Itu pula yang semestinya bisa mereka wujudkan sebagai sebuah pertanggungjawaban (Aufgabe) kepada Tuhan. Sekaligus sebuah sumbangan bagi keutuhan Negara Republik Indonesia.

Buku (disertasi) Litaay ini merupakan suatu karya ilmiah yang padat, tidak hanya secara teoretis, tetapi karena Litaay sendiri adalah seorang praktisi politik senior yang sudah cukup kenyang mengecap manis-pahit perjuangan politik lokal dan nasional. Dengan perkataan lain, buku ini merupakan upaya eksploratif yang mengombinasikan keluasan ranah teoretis dan kedalaman refleksi personal yang terbentuk dalam perubahan zaman. Hal itu terungkap pada bagian akhir buku ini (hlm. 314-315). Tak berlebihan jika karya ini layak disebut magnum opus tentang pemikiran sosial-politik Kristen Indonesia yang terartikulasi dalam perspektif Dr. Johannes Leimena.

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: