Posted by: katabuku | February 26, 2008

Kemarahan, Keramahan dan Kemurahan Allah

kemarahan.jpg

Subjudul: Teologi Sederhana tentang Sifat Allah dan Budaya Masyarakat Kita; Penulis: Yahya Wijaya, Ph.D; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2008

Kata “teologi” untuk waktu yang cukup lama merupakan kata yang melekat menjadi karakter kaum cendekiawan yang berkutat dengan pemikiran-pemikiran filosofis, abstrak dan sulit dicerna oleh orang biasa-biasa. Kendati selalu bergelut dengan ranah pemikiran yang abstrak, teologi sesungguhnya bersumber pada ekspresi pengalaman-pengalaman kemanusiaan sehari-hari. Pengalaman-pengalaman kemanusiaan tersebut tidak semuanya mudah dipahami dan dijelaskan, sehingga dalam eksplorasinya teologi selalu harus membangun interkoneksitas dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya. Semuanya itu ditempuh untuk memahami realitas dunia dan manusia.

Apa yang khas dari teologi ialah kemampuannya untuk mencerap seluruh pendekatan keilmuan dalam rangka membangun pengertian atas apa yang diyakini atau diimaninya. Dengan perkataan lain, beriman dalam konteks keberagamaan tidak pernah bisa lepas dari pertautan kreatif dengan konteks kemanusiaan (sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya). Jadi, dalam pengertian yang paling sederhana, teologi adalah refleksi kritis seseorang mengenai makna beriman dalam realitas hidupnya di dunia. Sebagai yang demikian, setiap orang yang beriman selalu mempunyai refleksi teologisnya sendiri. Pada sebelah lain, “refleksi teologis” yang spontan dapat menjadi sumber bagi penelusuran kritis dan ilmiah, sehingga darinya orang beriman mampu memaknai imannya dalam dinamika ruang dan waktu yang terus berubah.

Yahya Wijaya, penulis buku ini, menyadari bahwa teologi selalu mengandung dialektika antara “pengalaman keseharian” dan “refleksi kritis atas pengalaman”. Pengalaman keseharian adalah kenyataan yang dihadapi dan dialami oleh setiap orang. Kadang-kadang semuanya berlalu begitu saja. Sementara refleksi kritis atas pengalaman dapat dilakukan sejauh pengalaman-pengalaman itu dipikirkan, direnungkan, dikaji, guna melahirkan pemahaman yang utuh mengenai kehidupan itu sendiri.

Dengan gaya bahasa yang sederhana dan mengalir, Yahya Wijaya mengajak pembaca untuk “berteologi” melalui tawaran-tawaran tema menarik dan menggelitik, dengan cara mencermati realitas atau fenomena zaman lantas mempertautkannya dengan tafsir-tafsir kitab suci secara kreatif. Tindakan berteologi itu harus menjadi suatu kenikmatan dan keharusan karena iman Kristen meyakini bahwa Allah yang mahatinggi menjadi manusia, dan mengalami kehidupan manusiawi.

Dengan membaca buku ini, penulisnya hendak menegaskan bahwa teologi bukan hak istimewa para “elite” cendekiawan teologi, melainkan suatu ekspresi beriman yang merdeka dari setiap orang percaya, yang rindu mengalami Allah dalam kenyataan hidup yang paling sederhana sekalipun.

Steve Gaspersz



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: