Posted by: katabuku | February 26, 2008

Keluar dari Agama Suku Masuk ke Agama Kristen (Van Heiden tot Christen)

keluar-dari-agama.jpg

Penulis: Albertus Christiaan Kruyt; Penerbit: BPK Gunung Mulia Cetakan ke-1 Edisi ke-2 (2008)

Kekristenan di Indonesia lahir dalam konteks kolonialisasi bangsa-bangsa Barat (Portugis dan Belanda). Itu realitas historis yang tak terpungkiri. Oleh karenanya, dalam seluruh langgam historis dan sosiologisnya, kekristenan menampilkan suatu postur keberagamaan yang “barat” (westernized). Perkembangan kekristenan dalam konteks kolonial kemudian bergerak maju seirama perubahan sosial-politik masyarakat jajahan yang di kemudian hari menyatakan diri sebagai entitas politik (negara) yang merdeka.

Memahami kekristenan kontemporer di Indonesia tidak dapat tidak mesti membawa kita untuk menoleh pada akar-akar sejarahnya di masa lampau. Penerawangan pada akar-akar sejarah itu tidak hanya membuat kita insyaf akan pada realitas kesejarahannya, tetapi terlebih lagi, membantu kita yang hidup pada masa kini menyadari postur kekristenan sebagai organisme yang berubah, beradaptasi, dinamis, sambil tetap berusaha menjaga nilai-nilai kebenaran tradisional dan doktrinalnya sepanjang masa dan lintas generasi. Sehingga pada gilirannya, kekristenan itu sendiri makin jauh dan kritis terhadap stigmatisasi identitasnya sebagai “agama kolonial”. Kekristenan dalam sejarah masyarakat Indonesia pada hakikatnya makin menjadi agama Indonesia, yang mampu meramu dalam dirinya keanekaragaman identitas “lain” menjadi identitasnya sendiri. Dalam kesadaran itulah mahakarya A.C. Kruyt ini penting untuk dibaca.

Buku ini sebenarnya bukan buku baru. Edisi pertamanya dalam bahasa Indonesia terbit pada 1976 sebagai jilid pertama seri “Gereja, Agama dan Kebudayaan di Indonesia”. Edisi yang sekarang adalah edisi kedua dengan penerjemahan mutakhir yang digarap oleh sejarawan Dr. Th. Van den End, dilengkapi pendahuluan oleh Prof. Dr. J.A.B. Jongeneel, guru besar bidang misiologi pada Universitas Utrecht (Belanda).

Kruyt bekerja sebagai pekabar Injil di Poso selama empat puluh tahun. Dalam rentang waktu yang panjang itu, dia terlibat dalam petualangan dan pengalaman yang mendalam bersama dengan komunitas-komunitas pribumi di berbagai wilayah Nusantara. Petualangan dan pengalamannya tersebut tertuang dalam begitu banyak tulisannya.

Van Heiden tot Christen termasuk karya Kruyt yang paling berbobot teologis. Tetapi di sini yang dipilih untuk diterjemahkan adalah karya yang ketiga, dengan alasan pada tahun-tahun 1920-an Kruyt berada di puncak kejayaannya dan terutama karena tulisan ini lebih relevan untuk Indonesia masa kini.

Buku ini terdiri dari delapan bab. Dalam bab I, Kruyt menyajikan ikhtisar umum kebudayaan dan agama bangsa-bangsa yang telah memasuki Indonesia di masa lampau. Setiap gelombang membawa kebudayaan dan agama yang lebih tinggi daripada gelombang terdahulu. Kruyt memandang agama Kristen sebagai agama yang paling tinggi.

Dalam bab II-V, Kruyt membahas tentang dogma, ritus, kepercayaan, doa dan wawasan dosa dalam agama suku. Pembahasan tersebut kemudian dihadapkan pada wawasan yang benar-benar Kristen dengan penjelasan singkat pada bagian akhir setiap bab.

Dalam tiga bab terakhir Kruyt mencurahkan perhatian yang lebih besar terhadap agama Kristen. Bab VI mengulas tentang salah satu pokok penting di bidang teologi praktis: pemberitaan firman kepada penganut agama suku dan mereka yang baru saja dibaptis jangan berbentuk abstrak, tetapi harus memakai alat peraga. Bab VII membahas salah satu masalah penting yang termasuk teologi sistematis, yaitu hubungan antara hukum dan Injil. Orang yang baru masuk menghendaki hukum, bukan Injil. Namun demikian, sang zendeling harus mendidik sambil membimbing mereka ke arah Injil. Bab terakhir menjelaskan cara agama Kristen diterima dan dijadikan milik sendiri oleh orang Kristen yang baru keluar dari agama suku dan memberi petunjuk mengenai cara seorang utusan Injil dapat membantu mereka dalam hal ini.

Meskipun ditulis dengan bobot teologis yang mendalam sesuai dengan gaya pada zamannya, buku ini tidak hanya penting bagi studi teologis. Catatan-catatan etnografis dan antropologis mengenai tradisi dan budaya komunitas pribumi Poso yang tertuang dalam buku ini merupakan dokumen berharga bagi studi-studi postcolonial. Studi postcolonial tidak hanya memberi perhatian pada tumbuhnya suatu kesadaran sosial masyarakat pascakolonial, tetapi juga memperlihatkan bahwa aspek-aspek historis dan antropologis antara masa lampau dan masa kini turut membentuk pemahaman mengenai identitas “kita” sebagai masyarakat modern. Modernitas bukanlah suatu situasi atau cara hidup atau worldview yang baru sama sekali, melainkan sebuah proses menjadi yang membentuk identitas hibrid masyarakat Indonesia kontemporer. Dari situ pula, melalui studi postcolonial – sebagaimana banyak terungkap dalam catatan “kolonial” Kruyt – kita yang hidup sekarang memperoleh suatu horison alternatif dalam memahami dinamika sosial, konflik, pembangunan, perlawanan, counter-culture, protes sosial, dan pluralisme, yang menjadi gerak masyarakat multikultural kontemporer di Indonesia pascakolonial.

Steve Gaspersz


Responses

  1. Ya, mari kita bersama ikut Yesus Kristus sebagai Juru selamat….Tinggalkan agama Suku, Tuhan Memberkati Kita Semua


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: