Posted by: katabuku | February 26, 2008

3 Dimensi Keesaan dalam Pembangunan Jemaat

3-dimensi.jpg

Penulis: Timotius Kurniawan Sutanto; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2008

Gereja berada di dalam dunia. Pernyataan itu mengandung implikasi bahwa Gereja hidup dalam ketegangan (dialektika) antara iman dan realitas keduniaan. Tetapi siapakah “Gereja” itu? Lantas, bagaimanakah Gereja mewujudkan keberadaannya di tengah-tengah lilitan masalah di dunia? Peran seperti apa yang hendak dilakukannya baik bagi dirinya sendiri maupun dalam relasi dengan “yang lain”?

Penulis buku ini membawa kita ke dalam refleksi kritis yang menyegarkan kembali pemahaman akan hakikat orang Kristen sebagai Gereja yang hidup dan berkarya di dalam konteksnya. Karya Gereja tidak hanya dirasakan oleh komunitas-dalam (ingroup), tetapi harus pula mewujud dalam kesaksian-pelayanan-persekutuan yang utuh kepada komunitas-luar (outgroup). Kendati selalu digerakkan upaya untuk menjadi “satu”, tetapi pada kenyataannya Gereja di dunia sulit untuk disatukan. Sejak abad-abad yang silam hingga saat ini, wajah Gereja justru makin menampakkan wajah perpecahan.

Buku ini terbagi ke dalam tiga bagian dan empat belas bab: (I) Yang Paling Mendasar – Gereja, Inti, Keesaan, Pembangunan Jemaat; (II) Tiga Dimensi Keesaan – Persekutuan dalam Kekudusan, Divinitas yang Memberdayakan, Jaringan Misi; (III) Transformasi Keesaan, Program “ACHIEVE”, Aspek Ibadah: Aksi dan Kontemplasi, Aspek Pelayanan: Healing dan Inspiring Ministry, Aspek Organisasi: Ecclesial Reformation, Aspek Pencapaian: Value Added to PFC dan …, Langkah Awal.

Tesis menarik yang dikemukakan oleh penulis, antara lain, adalah proses transformasi merupakan batu ujian apakah keesaan dinyatakan “lulus” sebagai inti gereja, ataukah ia tinggal sebatas inti hipoteteis yang tetap membuat gereja gagal mengoptimalkan misinya (hlm. 76). Keesaan tidak lagi dipahami dalam kerangka wacana teoretisnya tetapi dilanjutkan dengan menciptakan bahan-bahan yang bersifat praktis untuk dikembangkan dalam program pembangunan jemaat. Caranya ialah dengan melakukan sinergi tiga dimensi keesaan yang menghasilkan tujuh komponen dasar program ACHIEVE: [A]ctivity; [C]ontemplation; [H]ealing Ministry; [I]nspiring Ministry; [E]cclesial Reformation; [V]alue added to personal-fellowship-community; [E]ncounter with God.

Penjelasannya yang lugas-sederhana namun bernas, membuat buku layak dibaca sebagai refleksi teologis kontemporer berkaitan dengan program pembangunan jemaat secara konkret pada aras jemaat lokal.

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: