Posted by: katabuku | February 25, 2008

Menguak Ulah NeoKons: Menyingkap Agenda Terselubung Amerika dalam Memerangi Terorisme

menguak-ulah-neokons.jpg

Penulis: A. Safril Mubah; Penerbit: Pustaka Pelajar 2007

Detik-detik runtuhnya menara kembar World Trade Center dan Pentagon pada 11 September 2001 merupakan saat-saat neraka bagi rakyat Amerika Serikat (AS). Betapa tidak, dua simbol kedigdayaan AS dalam bidang ekonomi dan pertahanan jebol dan ambruk oleh suatu serangan mendadak yang nekat. Hanya dalam hitungan jam sesudah peristiwa tragis tersebut Presiden George W. Bush menabuh genderang perang dengan sasaran tembak Osama bin Laden yang dituduh sebagai biang kerok.

Seluruh dunia terperangah. Semua orang menduga akan pecah Perang Dunia III. Bedanya dengan perang-perang dunia sebelumnya, kali ini AS berdiri sebagai single fighter yang menantang dunia (baca: negara-negara) yang dianggap tak berpihak pada kebijakan unilateralnya untuk melakukan preemptive strike.

Kendati dunia terperangah, tetapi tak semua memahami “musuh” seperti apa yang dihadapi oleh AS dan motivasi apa yang melandasi agresivitas AS dalam melakukan serangan-serangan menghancurkan terhadap negara-negara yang dikuasai oleh rezim otoriter.

A. Safril Mubah dalam bukunya ini dengan piawai membedah selubung pekat jaringan pemikir dan kelompok yang disebut neokonservatif. Apa itu neokonservatif? Istilah neokonservatif pertama kali diperkenalkan oleh Michael Harrington pada 1970-an. Dia mengemukakan bahwa istilah itu menunjuk suatu gerakan eksodus sekelompok individu yang semula berpaham liberal dan kemudian beralih menuju paham konservatif. Kelompok ini disebutnya sebagai konservatif baru (new conservatism) atau neokons.

Dalam bab 1 dan 2 Mubah menelusuri tumbuhnya embrio neokons yang terkristal dalam figur Irving Kristol yang dijuluki the godfather of neoconservatism. Kristol beranggapan bahwa neokons adalah golongan yang sebelumnya menganut nilai-nilai liberal tetapi merasa tidak sepaham dengan garis politik yang diambil sebagian besar kelompok liberal sehingga memutuskan untuk beralih ke konservatif (hlm. 9).

Konservatisme adalah kepercayaan terhadap nilai-nilai konvensional yang telah mengakar secara tradisional dalam kehidupan masyarakat. Di AS, nilai konservatif yang mengakar kuat adalah kebebasan. Namun, tidak selamanya pemikiran konservatisme AS hanya berkutat pada kebebasan. Itulah yang memunculkan beraneka varian konservatisme Amerika: classical cons, small government cons, ideological cons, paleoconservatism dan neoconservatism (hlm. 21).

Prinsip pemikiran yang ditegakkan oleh neokons banyak berpijak pada pemikiran filsuf politik Chicago University yang merupakan imigran Yahudi dari Jerman, Leo Strauss (1899-1973) dan Leon Trotsky (1879-1940), ilmuwan sosialis Uni Sovyet penganut Yahudi yang memiliki peran penting dalam Revolusi Bolsheviks pada 1917. Letak kesamaan trotskyisme dengan neokonservatisme memang bukan pada pahamnya, tetapi pada gagasan untuk menyebarkan paham mereka ke seluruh dunia. Impian Trotsky tentang revolusi sosialis dunia diadopsi oleh neokonservatif untuk menyebarkan kapitalisme demokratik ke seluruh dunia. Jadi, ada semacam pembalikan ide dari sosialis ke demokrasi (inverted trotskyism) yang bertujuan mengekspor demokrasi dalam cara yang sama bahwa trotskyist pada dasarnya mengekspor sosialisme.

Bab 3 sampai bab 5, Mubah menggambarkan dengan cermat bagaimana dari neokons bermetamorfosis dari gerakan pemikiran menjadi sebuah gerakan politik dengan ambisi menancapkan pengaruh AS ke seluruh dunia. Perjuangan kaum neokons bukannya tanpa hambatan. Dinamika kepemimpinan politik AS yang digambarkan oleh Mubah menunjukkan bahwa meski hubungan mereka tidak selamanya mulus dengan penguasa AS, tetapi fakta memperlihatkan bahwa kaum neokons tidak pernah jauh dari orbit kekuasaan politik AS. Jaringan neokons sudah menggurita di seluruh sektor pengambilan keputusan politik penting di AS. Bahkan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Presiden George W. Bush, yang sudah benar-benar dikendalikan oleh ideologi neokons.

Buku ini menjadi suatu bacaan yang kritis dan menarik bagi setiap orang yang ingin mengetahui kebijakan-kebijakan luar negeri AS yang arogan, serta perselingkuhan AS dengan Israel yang sebenarnya dilandasi oleh suatu motivasi menguasai dunia dalam genggamannya. Motivasi tersebut diimplementasikan dalam tindakan-tindakan militer yang agresif tanpa mengindahkan eksistensi negara-negara lain, termasuk PBB. Pelajaran berharga dari buku ini tidak hanya bersifat informatif mengenai sepak-terjang AS yang dikontrol oleh kaum neokons, tetapi juga kritik-diri apakah proses berdemokrasi kita di Indonesia hanya akan diserahkan pada arogansi kelompok-kelompok tertentu yang merasa diri dominan, lantas merasa berhak mengatur bangsa ini secara otoriter. Kita ingin menjadi Indonesia yang bukan seperti AS. Kita ingin menjadi Indonesia yang menghargai pluralitas tanpa serentak menggilas perbedaan atas nama mayoritas. Di situlah letak pelajaran berharga buku ini sebagai pembelajaran berdemokrasi yang matang, yang tumbuh dari dialektika sosiologis dan kultural Indonesia itu sendiri.

Steve Gaspersz



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: