Posted by: katabuku | January 17, 2008

Gembalakanlah Gembala-gembalaku

feed-my-shepherds.jpg

Subjudul: Penyembuhan dan Pembaruan Spiritual bagi Para Pemimpin Kristen; Penulis: Flora Slosson Wuellner; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2007; ISBN: 978-979-687-400-2

Pendeta juga manusia! Plesetan dari petikan syair lagu rock yang aslinya “rocker juga manusia” nampaknya tepat untuk menggambarkan isi buku ini. Buku ini memang berawal dari kegelisahan seorang pendeta perempuan yang setelah puluhan tahun melayani jemaatnya tiba-tiba disergap oleh rasa kekosongan batin mendalam. Kekosongan batin atau spiritualitas itu mendesaknya untuk mempertanyakan kembali hakikat seluruh bentuk pelayanan kejemaatan dan juga jati dirinya sendiri dalam kesibukan-kesibukan pelayanan yang dilakukannya.

Sejak awal Flora menyadari bahwa untuk menjadi seorang pendeta dibutuhkan kompetensi tertentu: melayani Allah dan orang lain, pengetahuan teologi yang cerdas, pengetahuan tentang Alkitab, keterampilan berkhotbah dan memimpin kebaktian penuh makna, kemampuan mengorganisasikan dan memimpin komunitas gerejawi, serta perhatian yang cukup terhadap keadilan sosial. Namun, dalam proses pelayanannya dia kemudian mengakui bahwa tak pernah terpikirkan bagaimana pendeta itu sendiri memperoleh “makanan”, “dirawat” dan “dibarui”. “Tak seorang pun menunjukkan bahwa jika seorang gembala tidak diberi makan seperti domba-dombanya, gembala tersebut akan kelaparan dan mungkin saja melahap habis domba-domba tersebut” (hlm. 16).

Bertolak dari pengalaman-pengalamannya sendiri selama menjadi pendeta jemaat, Flora menggali kembali sumber-sumber spiritualitas dari cerita-cerita Alkitab untuk menemukan kegairahan baru dan pembaruan identitas sebagai “gembala”. Kisah-kisah seputar kebangkitan Yesus memberinya inspirasi untuk memahami inti spiritualitas kristiani. Menurutnya, “perjumpaan” – yang mewarnai kisah-kisah tersebut – merupakan jantung atau inti spiritualitas kristiani (hlm. 29). Hakikat unik Kekristenan tumbuh dalam perjumpaan dengan hati Allah melalui Yesus sang Kristus. Akan tetapi, apa itu “Kekristenan”? Flora menunjuk pada perdebatan apakah Kekristenan itu agama tentang Yesus atau agama dari Yesus. Untuk konsep yang pertama, Yesus ditempatkan “di luar”, seorang tokoh sempurna eksternal yang kepada-Nya kita tunduk. Untuk konsep yang kedua, Yesus ditempatkan sebagai saudara tua yang ramah, suatu model peran, seorang guru dan pembimbing. Flora sendiri menawarkan definisinya sendiri yaitu Kekristenan adalah agama melalui Yesus. Pilihan ini menawarkan kepada kita ikatan yang hidup, hubungan dengan Yesus yang hidup, yang melalui-Nya kita mengalami Allah, diri kita, orang lain dan segenap kehidupan dengan cara baru dan lebih baik. Memang, lantas yang jadi persoalan ialah para pemimpin Kristen terlalu sering menyebut nama Yesus secara profesional sehingga sulit untuk mengalami pengaruh kekuatan-Nya yang akrab dan mengagumkan.

Bahkan, nama Yesus kerap diselewengkan hanya untuk memperkuat otoritas kepemimpinan seorang pendeta atas jemaatnya. Padahal – merujuk pada kisah Yesus yang menampakkan diri di tengah-tengah murid – nyata bahwa kasih Allah datang dengan lemah lembut, namun penuh kuasa. “Kekuatan yang sejati adalah lawan dari pemaksaan” (hlm. 45). Penyembuhan yang dikerjakan Allah melalui Yesus tidak menyingkirkan topeng-topeng (penyalahgunaan spiritualitas) atau mendobrak pintu-pintu. Allah bukan penghancur, melainkan Roh Pembaru yang bekerja dan berkreasi dari akar-akar kemanusiaan yang paling dalam. Dalam pemahaman itulah Flora berbicara mengenai “spiritualitas inkarnasional” – Yesus tidak muncul di tengah-tengah para sahabat-Nya sebagai makhluk halus atau hantu, yang berbicara dengan kata-kata mitis. Yesus datang kepada mereka sebagai diri-Nya sendiri dengan cara yang dapat mereka kenal, lihat, peluk, sapa dan makan bersama. Gambaran yang terbersit ketika mendengar kata “spiritual” sering adalah suatu keadaan tak bertubuh dan yang secara mendasar terlepas dari emosi-emosi duniawi. Tetapi spiritualitas inkarnasional justru secara sadar hendak memperlakukan tubuh-tubuh fisik bukan sebagai mesin-mesin impersonal yang mekanis. “Tubuh kita merupakan getaran manifestasi roh, sama seperti materi adalah bentuk energi yang dapat ditangkap oleh pancaindra kita” (hlm. 65). Oleh karena itu, ketika berbagai emosi melanda, kita harus memperlakukannya dengan penuh hormat. Perasaan dan emosi itu tidak datang dari luar, tetapi merupakan bagian dari diri kita, yang perlu kita lihat, dengar, belajar darinya dan kemudian membawanya kepada tangan dan hati Sang Tabib sejati.

Mengapa Yesus masih mempunyai luka-luka pada tubuh-Nya yang telah bangkit? Bagi Flora, luka-luka itu adalah tanda yang memastikan bahwa Allah yang kekal melalui Yesus tidak pernah dan tidak akan pernah mengabaikan, meniadakan, mengecilkan atau menganggap sepele luka-luka manusiawi. Ia ada di antara kita menanggung luka-luka kita, bahkan dalam tubuh yang tak bercahaya. “Setiap kata dan tindakan-Nya memancarkan arti dan hati Allah. Hati Allah menanggung luka-luka kita. Allah menderita bersama-sama dengan kita” (hlm. 79). Gereja adalah suatu komunitas yang di dalamnya diharapkan terjadi penyembuhan. Tragisnya, menurut Flora, banyak liturgi gereja masih berpusat di sekitar dosa daripada luka, bahkan sering tidak menyebutkan kondisi keterlukaan. Tragis pula bahwa banyak gereja tidak melibatkna kelompok-kelompok pelayanan penyembuhan dan kelompok doa penyembuhan sebagai sesuatu yang semestinya dilakukan.

Ulasan yang sederhana tetapi padat, dengan gaya penulisan bersilang antara pengalaman dan refleksi alkitabiah (yang juga didasarkan atas pengalaman kemanusiaan para murid Yesus), serta refleksi/meditasi pada setiap akhir bab, membuat buku ini menjadi bacaan yang penting, khususnya bagi para pendeta. Tetapi tidak hanya bagi pendeta, buku ini juga layak dibaca oleh anggota-anggota jemaat untuk belajar menyelami hakikat pelayanan seorang pendeta, dan tentu saja makin sadar bahwa “sang pendeta” bukanlah “superman” yang bisa terbang dan mengatasi segala masalah.

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: