Posted by: katabuku | January 15, 2008

Models of Contextual Theology

bevans.jpg

Penulis: Stephen B. Bevans; Penerbit: Orbis Books 1996 (third printing)

Stephen Bevans dalam bukunya ini menyatakan bahwa berteologi secara kontekstual bukan merupakan suatu pilihan yang bersifat fakultatif, bukan pula hanya menjadi minat dan perhatian Dunia Ketiga atau para misionaris yang berkarya di sana. Memahami teologi sebagai sesuatu yang kontekstual berarti menegaskan sesuatu sebagai baru sekaligus tradisional. Teologi klasik memahami teologi sebagai sejenis ilmu pengetahuan objektif tentang iman. Teologi dimengerti sebagai sebuah refleksi iman menyangkut dua loci theologici (sumber berteologi), yakni Kitab Suci dan tradisi, yang isinya tidak bisa dan tidak pernah berubah. Namun, apa yang justru membuat teologi itu kontekstual ialah pengakuan akan keabsahan locus theologicus yang lain, yakni pengalaman manusia sekarang ini. Teologi kontekstual menyadari bahwa kebudayaan, sejarah, bentuk-bentuk pemikiran kontemporer dll., harus dipertimbangkan bersama dengan Kitab Suci dan tradisi sebagai sumber-sumber sahih bagi pengungkapan teologis.

Bevans melihat teologi kontekstual sebagai realitas subjektif yang membatasi manusia dan masyarakat secara budayawi dan historis. Realitas bukan suatu objektivitas yang bebas-nilai dan bebas-budaya, tetapi diterima melalui pemaknaan atas konteks budaya atau historis yang diinterpretasi seturut horizon tertentu yang kita punya dan dalam bentuk pemikiran-pemikiran kita yang tertentu pula. Konteks memengaruhi pemahaman tentang Allah dan pengungkapan iman kita. Sudah bukan zamannya lagi untuk berbicara tentang theologia perennis, satu teologi yang benar dan tak berubah. Kini kita hanya bisa berbicara tentang sebuah teologi yang punya makna pada satu tempat dan pada waktu tertentu. Belajar dari orang-orang lain memang penting, namun teologi orang lain tidak pernah bisa menjadi teologi milik kita sendiri.

Kalau kita mengakui pentingnya konteks bagi teologi, kita mesti pula mengakui betapa pentingnya konteks itu demi pengembangan Kitab Suci dan tradisi. Tulisan-tulisan Kitab Suci serta isi, praktik dan cita rasa tradisi tidak sekadar jatuh dari langit. Semuanya itu merupakan hal-hal yang dihasilkan oleh manusia dan konteks kehidupan mereka. Semuanya telah dikembangkan manusia, ditulis dan disusun dalam kosakata manusia, dan dikondisikan oleh kepribadian manusia serta lingkup kemanusiaan. Ketika kita belajar Kitab Suci dan tradisi, kita tidak saja harus menyadari ciri kontekstualnya yang tak terelakkan; kita juga harus membaca dan menafsir keduanya dalam konteks kita sendiri.

Oleh karena itu, berteologi secara kontekstual berarti berteologi secara simultan memperhatikan dua hal: pertama, memberi perhatian penuh pada pengalaman masa lampau yang terekam dalam Kitab Suci, dan dijaga agar tetap hidup, dilestarikan – barangkali juga bahkan diabaikan atau ditindas – dalam tradisi. Kedua, memperhatikan dengan cermat pengalaman masa kini atau konteks aktual. Gagasan tentang pengalaman masa kini mencakup juga realitas perubahan sosial. Tidak ada satu konteks pun yang bersifat statis. Kebudayaan yang paling tradisional pun adalah sesuatu yang senantiasa berubah, entah maju atau merosot. Dalam dunia dewasa ini yang mengglobal, di mana ruang dan waktu menyempit dan memampat, terdapat dua faktor yang secara khusus berpengaruh kuat atas perubahan sosial di dalam berbagai kebudayaan. Pertama, dampak kultural dari modernitas, bersama dengan berbagai revolusi yang dibawa serta oleh media elektronik dan perluasan jejaring global kontemporer. Kedua, sisi idealis dari modernitas itu juga berdampak di seluruh dunia. Banyak masyarakat yang selama ini ditekan oleh kekuatan-kekuatan opresif, kini mulai mengakui hak-hak serta martabat orang-orang tertindas yang terus berjuang demi pembebasan mereka. Inilah yang terjadi di bidang politik dalam berbagai masyarakat di Amerika Latin dan Asia, atau dalam berbagai situasi keterpinggiran seperti yang dialami oleh kaum perempuan, bangsa “berwarna” dan kaum homoseksual.

Eksperimentasi berteologi yang lahir dari pergulatan memaknai setiap ekspresi kebudayaan dan pengalaman manusia secara konkret telah melahirkan beraneka corak pendekatan teologis. Kendati demikian, setiap upaya melakukan dekonstruksi-rekonstruksi teologis vis a vis konteks gumulnya tetap merupakan proses yang tidak akan pernah selesai. Rancang-bangun berteologi selalu menjadi sebuah sikap selektif, pencerapan, iluminasi dan eliminasi, serta disposisi terhadap realitas sosial dan kebudayaan orang Kristen dan gereja-gereja. Dengan perkataan lain, teologi kontekstual hanyalah menampilkan satu angle terbatas mengenai refleksi kemanusiaan. Dalam batasan itu Bevans memahami teologi kontekstual sebagai sebuah “model”.

Bagaimana memahami model? Bevans menarik tiga orang ke dalam lingkaran diskursusnya: Ian G. Barbour, Avery Dulles dan Sally McFague. Barbour mendefinisikan model sebagai “a symbolic representative of selected aspects of the behaviour of a complex system for particular purposes”. Sementara Dulles dalam bukunya Models of Revelation memerikan model sebagai “a relative simple, artificially constructed case which is found to be useful and illuminating for dealing with realities that are more complex and differentiated”. Model-model merupakan konstruksi; bukanlah cermin dari realitas “di luar sana”, melainkan adalah “tipe-tipe ideal”, entah berupa berbagai hampiran teoretis yang dirancang secara logis, entah abstraksi-abstraksi yang dibentuk dari posisi-posisi konkret. Suatu model harus dicermati secara serius, tetapi tidak secara harfiah. Tidak ada satu pun yang secara sejati menjadi sebuah model dalam kehidupan nyata. Suatu model, ditandaskan oleh Sally McFague, “partakes in the metaphorical nature of all language, and so while it certainty affirms something real, it never really captures that reality.”

Bagi Bevans, sebuah model – dalam arti yang paling sering digunakan dalam teologi – adalah “model teoretis”. Model teoretis adalah sebuah “kasus” yang berguna untuk menyederhanakan sebuah realitas yang jamak dan rumit. Kendati proses simplifikasi semacam itu tidak secara penuh menangkap realitas tersebut, namun ia sungguh-sungguh menghasilkan pengetahuan yang benar tentangnya. Model-model teoretis bisa saja bersifat eksklusif, inklusif, paradigmatis, deskriptif atau komplementer. Oleh karena itu, setiap model menyajikan suatu cara berteologi yang khas, dan secara sungguh-sungguh memperhatikan satu konteks tertentu serta menampilkan suatu titik tolak teologis yang khas dan pengandaian-pengandaian teologis yang juga khas. Bevans mengelaborasi secara detil lima model kontekstualisasi teologi:

  1. model translasi adalah model paling konservatif yang memberi perhatian serius pada kebudayaan dan perubahan budaya, namun lebih banyak penekanan pada kesetiaan terhadap apa yang dipandang sebagai hal-hal esensial dari Kitab Suci dan tradisi.
  2. model antropologis adalah model paling radikal yang memberi aksentuasi pada identitas budaya, serta relevansinya untuk teologi lebih daripada Kitab Suci atau tradisi. Kitab Suci dan tradisi tetap dipandang penting, namun merupakan hasil dari teologi-teologi yang relatif bersifat kontekstual yang ditempa dalam konteks-konteks yang sangat partikular.
  3. model praksis lebih digunakan untuk menimbang dan membidik penting atau perlunya konteks yang melibatkan perubahan sosial dalam artikulasi imannya.
  4. model sintesis dipakai sebagai kerangka untuk tidak sekadar menjajarkan segala sesuatu secara bersama dalam semacam kompromi, tetapi mengembangkan secara dialektis-kreatif sesuatu yang dapat diterima oleh semua sudut pandang.
  5. model transendental lebih memusatkan perhatian bukan pada isi yang hendak diartikulasikan, melainkan pada subjek yang mengartikulasikan. Ia tidak dimulai dengan keyakinan bahwa realitas itu “ada di luar sana”, yang terlepas dari pengenalan manusia, tetapi menandaskan bahwa subjek yang mengenal terlibat secara penuh di dalam menentukan bentuk esensial dari realitas.

Dengan penalaran atas masing-masing model tersebut buku ini memberikan ruang-ruang diskursif sebagai titik berangkat memahami situasi problematik doing theology di Indonesia. Pencermatan terhadap masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang kompleks tentu membutuhkan sebuah kerangka amatan yang andal. Tentu, model-modelnya Bevans tidak dapat dipahami sebagai formula yang rigid. Namun, setidaknya model-model tersebut dapat membantu kita untuk memahami pergolakan teologi kontekstual di Indonesia.

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: