Posted by: katabuku | January 15, 2008

Misiologi Kontekstual: Th. Kobong dan Pergulatan Kekristenan Lokal di Indonesia

misiologi-kontekstual.jpg

Penyunting: Martin L. Sinaga, Steve Gaspersz dan Johana Pabontong-Tangirerung; Penerbit: Unit Publikasi dan Informasi STT Jakarta bekerja sama dengan Gereja Toraja (2004)

Buku ini merupakan apresiasi kritis sejumlah teolog Indonesia terhadap pemikiran misiologis Theo Kobong. Pergulatan dengan ketegangan Injil dan kebudayaan Toraja telah membawa Kobong untuk secara sadar menghadirkan identitas Kristen Toraja dengan cara mendekonstruksi nilai-nilai Kristen tradisional ke arah rekonstruksi nilai-nilai Kristen yang dibangun atas penghayatan budaya lokal. Upaya ini dilakukan dengan mempertemukan Injil (“kebudayaan universal-objektif”) dengan “kebudayaan lokal yang partikular-subjektif” demi menghasilkan pemahaman iman Kristen yang kontekstual, namun juga am. Ada tiga tantangan utama yang muncul dalam konteks Gereja Toraja: (1) kebudayaan Toraja; (2) Islam dan (3) modernisasi. Dari ketiganya, Kobong melihat persoalan kebudayaan Torajalah yang paling berat. Interpretasi budaya oleh para zending yang masuk ke Toraja secara signifikan telah mereduksi konsepsi aluk. Hal ini menimbulkan perdebatan teologis yang panjang dan kebingungan sosial yang mendasar. Benturan-benturan interpretatif atas masalah adat di Toraja makin mengerucut pada konflik ideologis di kalangan masyarakat lokal dan gereja sebagai institusi agama. Kobong lebih memusatkan perhatian kajian teologisnya untuk menjawab perjumpaan Injil dan kebudayaan. Konsekuensinya, kedua tantangan lainnya tidak mendapat perhatian cukup serius.

Ery Hutabarat-Lebang, seorang perempuan Toraja, menyatakan bahwa ketiga tantangan tersebut tidak dapat lagi dihadapi satu-satu. Semakin nyata kini bahwa konteks tersebut saling bersinggungan. Konsep tongkonan sebagai gereja harus bisa lebih terbuka dan fleksibel, khususnya berhadapan dengan agama-agama lain, karena ada juga keluarga dekat yang beragama Islam. Persoalan mendasar lain, begitu sulit mengidentifikasi identitas komunitas Kristen atau gereja Toraja karena sudah terlalu lama terpasung dalam pemahaman bahwa identitas gereja Toraja merupakan kelanjutan tradisi Gereformeerd Belanda. Apalagi masih kuatnya pandangan “teologis” bahwa kebudayaan tradisional itu kafir dan harus dijauhi. Gereja harus melakukan permenungan (introspeksi) terhadap apa yang selama ini dianggap sebagai identitas: apakah kita sudah sungguh mengembangkan suatu komunitas Toraja yang kristiani, atau hanya sekadar melanjutkan tradisi kekristenan yang diberi “rasa” Toraja? Untuk itu diperlukan dialog yang jujur, terbuka dan dialektis antara “konteks budaya Toraja” dengan “nilai-nilai kristiani” yang bertolak dari Kristus sebagai Firman yang berinkarnasi.

Kobong memahami kebudayaan sebagai pola hidup manusia dalam kelompok, sehingga kebudayaan harus dihayati dan diamalkan dalam hubungan dengan sesama anggota kelompok atau komunitas. Tetapi semenjak manusia jatuh ke dalam dosa, kebudayaan manusia menjadi “rusak”. Budaya tidak lagi menuruti kehendak Allah, tetapi kehendak manusia. Namun, itu bukan berarti Allah absen dari budaya-budaya partikular. Tujuan pokok aktivitas Allah di dalam budaya-budaya tersebut adalah untuk membawa pembebasan, hidup dan pengetahuan terhadap Allah untuk semua (Yoh. 10:10; 17:3). Itu sebabnya ada juga nilai-nilai yang dapat dipakai dan dikembangkan dalam budaya-budaya tersebut dalam perjumpaannya dengan dan setelah ditransformasi oleh Injil.

Jika ada nilai-nilai positif dalam budaya yang dapat digunakan sebagai media doing theology, yang manakah itu? Septemmy Lakawa menggumuli soal itu dengan mengambil sudut pandang dan teologi perempuan. Ia mengajak untuk melihat dan mengidentifikasi sejauh mana perspektif dan pengalaman hidup perempuan Toraja benar-benar menjadi sumber konstruktif bagi gereja Toraja. Hal itu dilakukan dalam rangka proses bergereja yang transformatif, yang membebaskan perempuan dan laki-laki. Analisis terhadap mitos Aluk Todolo mengungkapkan mitologi penciptaan perempuan secara konstruktif. Perempuan (Arung Dibatu) dalam mitologi itu bertindak sebagai pemrakarsa penciptaan. Sebagai sistem makna, mitologi ini sangat memengaruhi struktur sosial masyarakat Toraja. Perempuan Toraja mendapat kedudukan yang sangat penting dalam strata sosial masyarakat Toraja. Namun, persoalan muncul ketika kekristenan datang di Toraja, lantas seluruh interpretasi kultural sangat dideterminasi oleh kerangka kultur Barat. Peran Aluk Todolo pun terpinggirkan. Perempuan dalam Aluk dipilih Septemmy untuk melihat kontur-kontur baru berteologi atau bermisi yang menitikberatkan nilai transformasi dan liberatif dalam membangun sebuah misiologi yang berpusat pada kehidupan.

Sebagai apresiasi kritis terhadap rancang-bangun teologi tongkonan, Zakaria Ngelow menggarisbawahi perbedaan mendasar antara kontekstualisasi teologi dan teologi kontekstual. Kontekstualisasi teologi merupakan upaya menerapkan kebenaran Injil yang diyakini mempunyai nilai-nilai universal dalam konteks kebudayaan. Sebaliknya, teologi kontekstual merupakan upaya menemukan kebenaran Injil dalam setiap konteks. Pada posisi pertama, kebudayaan bersifat subordinatif terhadap Injil dan itulah posisi yang dianut Kobong. Sementara posisi kedua yang semestinya dikembangkan sehingga terjadi dialog kritis antara Injil dan kebudayaan. Pandangan Kobong ini, menurut Ngelow, sangat dipengaruhi oleh para teolog neo-ortodoks Barat, khususnya Karl Barth dan Hendrik Kraemer. Pemikiran ini sangat berbeda dengan pemikiran teolog-teolog yang melahirkan teologi kontekstual sebagaimana dilakukan oleh C.S. Song, Kosuke Koyama, Gustavo Guttierrez, dll.

Th. Sumartana memberikan pandangannya yang kritis atas gagasan-gagasan teologis yang dikembangkan oleh Kobong, dengan mengajukan tiga hal penting: Pertama, Sumartana mensinyalir pemikiran Kobong dalam mengembangkan teologi kebudayaan di Toraja (yang kemudian menjadi pemikiran misiologisnya) sangat dipengaruhi oleh Kraemer, khususnya mengenai kristosentrisme. Kristosentrisme Kraemer tidak memungkinkan ada sistem religius macam apa pun yang perlu ditolerir. Pada posisi demikian, jika misiologi Kobong berada di bawah pengaruh Kraemer, maka nilai-nilai religius agama suku di Toraja tak “pantas” dipersandingkan dengan Injil. Kedua, Sumartana menilai pendekatan Kobong tidak memakai analisa sosiologis dari konteks Toraja yang lebih luas. Karena itu proses perpindahan dari agama suku Toraja ke agama Kristen, atau yang disebut Kobong gereja sebagai Tongkonan Kristus, hanya sekadar pergantian elit: kalangan para pemuka adat “pangala tondok” digantikan oleh para pemuka Kristen dan nilai-nilai Tongkonan digantikan oleh nilai-nilai Kristus. Ketiga, Sumartana memperhadapkan misiologi Kobong dengan tantangan baru atau realitas baru, yaitu pluralisme dan masalah sosial, seperti kemiskinan, marjinalisasi, kekerasan, dll. Untuk itu, persoalannya adalah merumuskan kembali teologi agama-agama dan upaya pembebasan yang dilakukan oleh agama-agama.

Diskursus eksperimentasi teologi misi Th. Kobong dan catatan-catatan kritis dari beberapa teolog muda Indonesia di atas mencuatkan sebentuk kegelisahan bahwa gagasan-gagasan Kobong patut dipertimbangkan secara serius, khususnya dalam konteks berindonesia. Dialektika identitas lokal yang selama Orde Baru ditenggelamkan dalam lautan ideologi “kebudayaan nasional”, kini dalam masa transisi demokrasi di Indonesia tampil kembali sebagai faktor determinan dalam proses tawar-menawar yang dianggap dapat mengancam integrasi bangsa. Tentu pewacanaan kebudayaan dan identitas lokal atau primordial merupakan fenomena yang wajar dalam proses membangun kehidupan sosial yang demokratis. Pluralitas merupakan modal sosial untuk membangun bangsa ini, meskipun tidak teringkari bahwa pada dirinya juga mengandung ancaman yang dahsyat jika tidak dikelola secara arif. Oleh karena itu, pluralitas mestinya dipahami sebagai “roh” bangsa ini yang sungguh-sungguh menghidupi keindonesiaan setiap warga negaranya. Apalagi kehidupan agama-agama di Indonesia.

Menanggapi realitas kejamakan sosial dan beragama di Indonesia, Ahmad Baso’ mengangkat gagasan multikulturalisme sebagai sebuah kasus-uji pengalaman baru beragama. Pengalaman baru beragama adalah sebuah perjumpaan yang lebih menghargai “yang lain”, bukan sekadar ada bersama-sama dalam suatu wadah beragam agama. Hal ini berbeda dengan pluralisme yang sekadar pengakuan atau kesadaran tentang realitas kemajemukan dan keragaman. Hal mendasar dari multikulturalisme adalah tuntutannya terhadap sebuah perubahan dalam cara kita memandang dan mengalami “yang lain”; sifatnya lebih pada sebuah gerakan. Benang merah gugatan multikulturalisme adalah menggugat ideologi dominan melting pot (panci pelebur) atau salad bowl (mangkok salad) dengan contoh di Amerika Serikat. Ideologi melting pot atau salad bowl menghendaki seluruh imigran dari berbagai asal di Amerika, melebur ke dalam kultur dominan. Artinya, seluruh aspek kebudayaan baik adat-istiadat maupun bahasa yang menempel pada imigran tersebut harus ditinggalkan dan menjadi orang Amerika baru.

Proyek misiologi rintisan Th. Kobong memang belum selesai dan mungkin beliau sendiri tidak pernah bermaksud untuk menyelesaikannya. Tinjauan dan analisis Kobong setidaknya memercik inspirasi untuk menelusuri dan membedah matra-matra kebudayaan lokal yang mengendap di bawah tempurung kesadaran masyarakat lokal sebagai akibat dari kolonialisasi agama. Namun, dalam segala ketajamannya mengupas realitas budaya Toraja, teologi misi Kobong tetap harus dilihat sebagai sebentuk model yang tidak menggambarkan realitas secara penuh. Diskursus misiologis ini tetap terbuka untuk dimasuki dan didekonstruksi oleh setiap orang yang gelisah dengan panggilan zaman dimana gereja hidup.

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: