Posted by: katabuku | January 8, 2008

Tersentuh dan Bebas: Teologi Seorang Perempuan Asia

compassionate-free.jpg

Penulis: Marianne Katoppo; Penerbit: Aksara Karunia 2007; ISBN: 978-979-3851-12-9

Buku ini sebenarnya bukan buku baru. Edisi bahasa Inggrisnya pertama diterbitkan pada 1979 oleh World Council of Churches, dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa seperti Belanda, Jerman, Swedia dan Tagalog. Tetapi kenapa di negeri sang penulis, Indonesia, baru sekarang (28 tahun kemudian) buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? Bahkan, Marianne mengakui bahwa di perpustakaan almamaternya, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, pun buku ini tidak ada (hlm. xix). Padahal buku ini telah dipakai sebagai textbook di hampir seluruh dunia. Ironisnya, sebelum 2004, buku dan nama Marianne Katoppo tidak disebut dalam silabi teologi feminis yang diajarkan di STT Jakarta. Tidak ada jawaban yang terang benderang. Namun tersirat ungkapan “Maklum, pada waktu itu Orde Baru yang berkuasa, yang tidak bersahabat dengan teologi pembebasan. ‘Teologi seorang perempuan Asia’ memang digolongkan dalam kategori teologi pembebasan”. Mungkin itu jawabnya. Suatu ungkapan yang menyakitkan jika melihat bahwa selama kurun waktu yang disebut “orde baru” itu banyak teolog Indonesia yang telah menulis banyak buku-buku “teologi”. Mungkin saja pemikiran-pemikiran teologi mereka (yang lebih didominasi laki-laki) dianggap lebih “ramah lingkungan” oleh para penguasa ketimbang buku Marianne ini.

Marianne menyadari bahwa konteks penulisan pada 1979 sangat berbeda dengan konteks 2007. Dari segi data, tentu banyak informasi yang harus disesuaikan. Tetapi Marianne menegaskan titik pijak teologinya: “wajah setiap orang yang menderita karena ketidakadilan dan penindasan adalah wajah Kristus yang disalibkan”. Dalam perspektif teologis itu, buku ini bermaksud menjelajahi pengalaman penderitaan manusia dari mata dan hati seorang perempuan Asia. Dan karena itulah, buku ini tetap menantang kita yang masih sempat membacanya setelah 28 tahun diterbitkan.

Pengalaman menjadi perempuan sebagai yang lain menjadi awal penjelajahan teologis Marianne. Dari situ ia mempertanyakan: “apa artinya menjadi yang lain?”. Marianne memulai dengan pengalamannya sendiri dengan memilah identitasnya sebagai “seorang Asia” (lebih khusus Indonesia), “seorang Kristen” dan “seorang perempuan”. Berbagai benturan identitas dalam konteks hidupnya telah mendekonstruksi pemikirannya, serta melahirkan bentuk-bentuk kesadaran baru mengenai siapa dirinya dalam konteks yang berwarna-warni itu. Baginya, Allah adalah Yang Lain yang Mutlak, sebab Allah adalah eskatologis; Diri ilahi tidak diberikan sepenuhnya kepada kita dalam sejarah, namun hanya pada akhir sejarah. Lantas, dari pengalamannya sendiri sebagai “yang lain”, ia menyadari bahwa di gereja pada umumnya, dan mungkin gereja Asia pada khususnya, perempuan itulah merupakan yang lain (hlm. 9). Di seluruh dunia dan sepanjang sejarah, gereja-gereja cenderung bukan hanya memberikan sovinisme lelaki suatu pengungkapan yang praktis, tetapi juga suatu legitimasi teologis dan bahkan pura-pura ilahi. Agar dapat maju dalam suatu masyarakat patriarkal, perempuan diharapkan menjadi seorang laki-laki, yaitu berhenti menjadi “yang lain” yang penuh ancaman itu. Banyak laki-laki bersikap antagonistik terhadap pembebasan kaum perempuan sebab mereka tidak memahami bahwa hal itu juga merupakan pembebasan manusia. Pria, sebagai norma, merupakan manusia. Perempuan, sebagai “deviasi”, bukanlah manusia.

Distorsi teologis yang dialami gereja-gereja salah satunya ialah “kesalahan” dalam membaca dan menafsirkan teks-teks Alkitab. Ketidaksadaran perempuan dalam gereja-gereja akan hakikatnya sebagai imago Dei disebabkan karena mereka telah diajar bahwa perempuan diciptakan hanya untuk menjadi “penolong” laki-laki dan mengabaikan implikasi kata Ibrani ‘ezer (penolong), yang juga digunakan untuk Allah, Penolong orang-orang yang tak berdaya. Citra perempuan Asia, seperti diproyeksikan media massa di Asia dewasa ini, sering merupakan suatu jiplakan yang setia dari saudara perempuannya di Barat, yakni istri rumah tangga yang borjuis.

Buku ini merupakan sebuah petualangan teologis yang berani melampaui penyekatan-penyekatan artifisial dalam konteks keperempuanan. Oleh karena itu, buku ini bukan hanya penting untuk dibaca tetapi semestinya menjadi roh bagi kontekstualisasi spirit keperempuanan yang memilah dengan tegas makna emansipasi dan determinasi eksistensi hakiki sebagai imago Dei. Marianne Katoppo, sang perempuan itu, telah pergi (12 Oktober 2007) dengan meninggalkan jejak-jejak yang jelas bahwa yang diperjuangkan perempuan Indonesia adalah hakikat eksistensial bukan simbol-simbol emansipasi basi. Selamat jalan empu Marianne Katoppo!

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: