Posted by: katabuku | January 8, 2008

Breaking The Conspiracy of Silence: Christian Churches and the Global AIDS Crisis

breaking-the-conspiracy-of-silence.jpg

Penulis: Donald E. Messer; Penerbit: Fortress Press 2004; ISBN: 0-8006-3641-4

Lebih dari duapuluh tahuh bergulat dengan pandemik global AIDS, segala upaya jemaat-jemaat dan berbagai denominasi nampaknya makin mengendur. Buku ini bermaksud membangunkan kembali semangat orang-orang Kristen untuk menghadapi tantangan AIDS di tahun-tahun yang akan datang.

Sebagai krisis kesehatan terburuk di dunia sepanjang 700 tahun, epidemik global HIV/AIDS telah menunjukkan cakupan yang mencengangkan: 40 juta orang terinfeksi di seluruh dunia (75% terdapat di Afrika); 7000 orang meninggal dunia setiap hari; 1600 orang terinfeksi setiap hari. Sekitar 26 juta orang telah meninggal dunia.

“Pada kairos yang tak pernah terduga dalam sejarah umat manusia saat ini,” kata Messer, “Allah sedang memanggil gereja untuk menjalankan misi dan pelayanan yang baru”. Bertolak dari keterlibatannya sendiri dalam pendidikan AIDS secara global di Asia, Amerika Latin dan Afrika, Messer memakai cerita-cerita, informasi faktual mendasar dan wawasan teologis untuk memotivasi para kaum awam dan pelayan gereja untuk membangun model kepemimpinan dan bentuk kemitraan dengan semua orang Kristen di seluruh dunia dalam pergumulan bersama ini. Sebagaimana setiap pribadi harus mengubah perilaku mereka untuk mencegah dan mengeliminasi AIDS, demikian pula jemaat-jemaat dan para pemimpin gereja harus mengubah perspektif mereka tentang AIDS. Sentuhan kasih, bukan pengutukan, yang lebih dibutuhkan, kata Messer. Namun sumber daya finansial untuk program pendidikan dan pencegahan juga sangat dibutuhkan oleh gereja-gereja. Messers menunjukkan bagaimana gereja-gereja dapat bermitra dengan organisasi-organisasi oikumenis, lembaga-lembaga pemberi bantuan, program-program misi sukarela, program-program kesehatan dan lembaga-lembaga lainnya yang terlibat menangani AIDS global secara langsung dan efektif.

Buku ini bukanlah textbook medis, panduan konseling atau strategi kebijakan publik. Buku ini merupakan esai teologi praktika yang berusaha memotivasi semua orang Kristen untuk merancang kepemimpinan dan membentuk kemitraan dengan orang-orang Kristen di seluruh dunia dalam perjuangan melawan HIV/AIDS (hlm. xvi).

Buku ini memberi penekanan pada tiga tema utama (xvii-xviii):

  1. setiap orang harus mengubah perilakunya dalam mencegah dan mengeliminasi AIDS, para pemimpin gereja juga harus mengubah perilaku mereka. Yang harus diperkuat ialah belas kasih bukan kutukan; keterlibatan bukan ketidakpedulian.
  2. gereja-gereja harus meningkatkan alokasi sumber daya finansial untuk pendidikan AIDS dan program-program pencegahan. Partisipasi bermakna dalam misi pemulihan Allah di dunia membutuhkan sumber daya baru yang substansial.
  3. organisasi-organisasi oikumenis, denominasi-denominasi dan gereja-gereja lokal perlu merespons secara imajinatif keadaan darurat global ini. Program-program pendidikan di semua jenjang dalam gereja yang menjangkau yatim-piatu, berbicara tentang keadilan sosial global dalam program-program layanan kesehatan, dan berpartisipasi dalam program-program misi sukarela adalah beberapa hal yang bisa dilakukan.

Ini semua bukanlah isu sempalan tetapi panggilan Allah kepada kita semua untuk menghadapi krisis kemanusiaan dengan roh pemulihan Yesus Kristus.

Untuk merespons kondisi darurat global ini, orang-orang Kristen harus bergerak menuju suatu teologi AIDS yang baru, yang menekankan keterbukaan, bukan pengucilan – belaskasih, bukan pengutukan. Para pemimpin Kristen harus mengupayakan suatu pertautan pengajaran biblis dengan imperatif pelayanan untuk orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS, dan untuk memasukkan suatu perspektif teologis yang selaras dengan kasih dan tindakan radikal Yesus, sang Kristus.

Dalam suatu konferensi oikumenis internasional HIV/AIDS di Mumbai (Bombay) India, salib Yesus dilingkari oleh pita merah simbol AIDS. Gereja Yesus Kristus dipanggil untuk berada di jantung kesengsaraan dan penderitaan pandemik global. Kita tidak punya pilihan; kita tidak bisa mengelak; tubuh Kristus telah terserang AIDS (hlm. 19). Salib sering menjadi perhiasan orang Kristen. Tapi pita merah AIDS pada salib mengingatkan kita bahwa kita sering dalam gereja tidak ingin bicara tentang seksualitas manusia, narkoba, distribusi kondom, penyakit dan kematian (hlm. 20). Gereja sebagai koinonia (persekutuan sejati) sering hancur karena ada orang-orang kristen yang dikucilkan dan distigmatisasi serta mengalami diskriminasi menyakitkan karena ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan gereja.

Buku layak, bahkan penting menjadi referensi teologis bukan hanya bagi kaum teolog tetapi juga kaum awam (Kristen maupun bukan-Kristen) karena dua alasan:

1. Alasan kualifikasi penulis:

Buku ini ditulis oleh seorang teolog yang memiliki kualifikasi ganda, yakni sebagai seorang akademisi dan sekaligus seorang praktisi gerejawi. Dengan kualifikasi ganda tersebut maka gagasan-gagasan yang dituangkan dalam buku ini merupakan refleksi kritis terhadap bacaan-bacaan teoretik mengenai masalah HIV/AIDS yang dikombinasikan dengan berbagai penelitian serta keterlibatan aktif dalam program-program berkaitan dengan HIV/AIDS.

2. Alasan tematis:

HIV/AIDS merupakan tema penting diskursus kemanusiaan abad ke-21. HIV/AIDS saat ini tidak bisa dilihat hanya sebagai masalah kesehatan semata, melainkan merupakan masalah kemanusiaan yang rumit. Di dalam membahas masalah HIV/AIDS ini dibutuhkan suatu pendekatan komprehensif (sosiologis, politis, antropologis, ekonomis, dsb). Pada titik inilah setiap komunitas manusia (termasuk agama dan/atau gereja) tidak bisa menafikannya dalam proses berteologi maupun dalam misi Kristen membangun kemanusiaan sebagai citra Allah, bersama-sama dengan komunitas lain.

Dengan kedua alasan itulah saya berpendapat buku ini dapat menjadi referensi penting dalam diskursus HIV/AIDS yang memberikan informasi dan wawasan teologis/eklesiologis yang penting bagi setiap orang Kristen dan/atau gereja menyikapinya. Apalagi, HIV/AIDS bukanlah “urusan” orang Kristen saja, tapi sudah menjadi urusan seluruh komunitas global lintas-agama, maka informasi dan analisis dari buku ini akan memperkuat komitmen dan refleksi bersama antarkomunitas lintas batas-batas primordial untuk menyikapi masalah kemanusiaan bersama ini.

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: