Posted by: katabuku | December 30, 2007

Kali Pertama Jumpa Yesus Kembali

kali-pertama-jumpa-yesus.jpg

Subjudul: Yesus Sejarah dan Hakikat Iman Kristen Masa Kini; Penulis: Marcus Borg; Penerbit: BPK Gunung Mulia (cetakan ke-2 tahun 2000)

Yesus adalah sosok fenomenal. Selama berabad-abad Yesus menjadi pusat kajian dan perdebatan interpretatif dalam berbagai bidang atau disiplin ilmu. Disebut “interpretatif” karena hampir dapat dipastikan bahwa seluruh sketsa mengenai sosok Yesus merupakan konstruksi tafsir atas susunan penggalan-penggalan fakta yang diperoleh dari berbagai sumber. Dari situ lantas dapat diperoleh suatu sketsa (gambaran kasar, tanpa hirau pada detil yang tak mungkin diperoleh).

Marcus Borg dalam bukunya ini secara sederhana namun mendalam mencoba untuk mengonstruksikan Yesus sebagai sosok historis yang pernah hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Yesus yang historis seperti ini sangat berbeda pencitraannya dari Yesus yang dipercaya dalam sejarah tradisi iman Kristen selama berabad-abad, bahkan hingga kini. Borg mengawali penjelajahannya dengan menuturkan proses perubahan pandangannya mengenai Yesus hingga ke suatu titik kesadaran yang – menurutnya – memberikan pencerahan dalam memahami sosok Yesus. Suatu kesadaran bahwa kitab-kitab Injil bukanlah dokumen-dokumen ilahi dan juga bukan catatan-catatan sejarah langsung. Sebaliknya, kitab-kitab Injil menampilkan tradisi-tradisi yang berkembang dari gerakan Kristen perdana. Dengan kajian pembandingan yang cermat dapat dilihat apa yang dikerjakan para penulisnya: mengubah dan memberi tambahan-tambahan pada tradisi-tradisi yang telah mereka terima. Dalam hal ini, ada dua faktor utama yang berperan: [1] tradisi-tradisi tentang Yesus disadur dan diterapkan pada keadaan-keadaan yang terus berubah di dalam gerakan Kristen mula-mula; [2] kepercayaan-kepercayaan tentang Yesus yang dianut gerakan itu tumbuh selama dasawarsa-dasawarsa itu. Selama dasawarsa-dasawarsa itu pula gerakan Kristen perdana secara bertahap telah mulai menyatakan bahwa Yesus itu ilahi dan memiliki sifat-sifat Allah. Ini adalah suatu perkembangan pemikiran yang kemudian, yang hanya dalam beberapa abad saja menghasilkan doktrin Trinitas.

Dalam kesadaran itulah, Borg melihat suatu perbedaan besar antara siapa Yesus itu sebagai seorang tokoh sejarah dan bagaimana Ia diungkapkan di dalam Injil-injil dan tradisi Kristen kemudian. Sebagai pembedaannya, Borg memakai istilah Yesus pra-Paskah dan Yesus pasca-Paskah. Yesus pra-Paskah adalah Yesus sebagai seorang tokoh sejarah sebelum kebangkitan-Nya, dan sebagian besar isi buku ini menaruh perhatian pada Yesus pra-Paskah. Sedangkan Yesus pasca-Paskah adalah Yesus dari tradisi Kristen dan pengalaman; jadi Yesus pasca-Paskah bukan hanya hasil dari kepercayaan dan pemikiran Kristen, melainkan suatu unsur dari pengalaman. Dengan demikian, masalah pokok kehidupan Kristen bukanlah ihwal percaya kepada Allah atau Alkitab atau tradisi Kristen, melainkan ihwal memasuki suatu hubungan dengan apa yang disebut dalam tradisi Kristen sebagai Allah, sang Kristus yang bangkit, atau Roh. Seorang Kristen adalah seorang yang menghayati penuh hubungannya dengan Allah di dalam bingkai tradisi kristiani.

Dalam bab 2 Borg kemudian mengonstruksi sosok Yesus pra-Paskah dengan memanfaatkan dua sumber: [1] lapisan-lapisan awal dari Injil Matius, Markus dan Lukas (Sinoptik), yang memuat ucapan-ucapan Yesus, kiprah-kiprah-Nya yang khas dan suatu kerangka pelayanan-Nya pada masa dewasa; [2] lapisan awal Injil Tomas yang baru ditemukan pada 1945 di dataran atas Mesir, yang terdiri atas ucapan-ucapan Yesus saja (114 ucapan). Dengan menempatkan identitas Yesus pada keyahudian yang tulen, dilanjutkan dengan penelusuran penggalan-penggalan kisah kelahiran dan masa dewasa Yesus, Borg tiba pada sketsanya sendiri:

  1. Yesus sejarah adalah seorang manusia roh (spirit person), seorang tokoh sejarah insani yang memiliki suatu kesadaran dan pengalaman akan realitas Allah.
  2. Yesus adalah seorang pengajar hikmat yang dengan teratur memakai bentuk-bentuk klasik wacana hikmat untuk mengajarkan suatu hikmat alternatif dan subversif.
  3. Yesus adalah seorang nabi sosial, serupa dengan nabi-nabi klasik pada zaman Israel kuno, mengkritik kalangan elit (ekonomi, politik, keagamaan) pada zaman-Nya, serta seorang penganjur suatu wawasan sosial alternatif dan kerap terlibat konflik dengan para penguasa.
  4. Yesus adalah seorang pendiri suatu gerakan yang melahirkan suatu gerakan pembaruan atau revitalisasi Yahudi yang menantang dan mengguncangkan batas-batas sosial zaman-Nya, suatu gerakan yang akhirnya menjadi gereja Kristen perdana.

Keempat sketsa inilah yang menjadi kerangka penjelasan Marcus Borg dalam bab-bab selanjutnya dari buku ini.

Lantas, apakah yang ingin dicapai oleh Borg dengan pemahaman Yesus historis ini dan korelasinya dengan pemahaman iman kristiani masa kini? Pada akhir penjelajahannya, Borg menyatakan bahwa ungkapan “percaya kepada Yesus” berarti memercayai apa yang Injil-injil dan gereja telah katakan tentang Yesus. Hal itu mudah ketika ia (Borg) masih seorang anak dan bertambah sulit ketika makin bertumbuh dewasa. Bagi Borg kini “percaya kepada Yesus” sebenarnya diperlihatkan oleh arti akar kata “percaya” – yang dalam bahasa Yunani maupun bahasa Latin berarti “memberikan hati kepada”. “Hati” adalah diri pada aras terdalam. Percaya tidak berupa pemberian persetujuan mental kepada sesuatu, melainkan meliputi diri orang pada aras yang jauh lebih dalam. Jadi, percaya pada Yesus tidaklah memercayai doktrin-doktrin tentang diri-Nya, tetapi memberikan hati seseorang, dirinya pada aras terdalam, kepada Yesus pra-Paskah yang adalah Tuhan yang hidup, bagian dari Allah yang terarah kepada kita, wajah Allah, Tuhan yang juga adalah Roh.

Dengan jumlah halaman yang tidak terlalu banyak dan penjelasan yang dituturkan secara ringkas-padat, buku ini dapat menjadi suatu “perkenalan” mengenai kajian Yesus historis yang kerap disalahpahami secara a priori sebelum orang mengenal penjelasan dari para eksponennya. Setidaknya melalui buku ini perspektif kita mengenai Yesus makin diperkaya dalam suatu lalu lintas wacana kristologi interdisipliner yang saling melengkapi secara kritis.

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: