Posted by: katabuku | December 21, 2007

Lihatlah Sang Manusia!: Suatu Pendekatan pada Etika Kristen Dasar

lihatlah-sang-manusia.jpg

Penulis: Verne H. Fletcher; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2007 (edisi sebelumnya diterbitkan oleh Duta Wacana University Press; ISBN: 978-979-687-397-5.

Spritualitas keagamaan seorang penganut agama tertentu pada hakikatnya selalu disandarkan pada ajaran-ajaran utama agamanya. Ajaran-ajaran agama itu sendiri bersumber pada kekuatan interpretatif yang menghubungkan pemahaman personal mengenai Tuhan (Ultimate Being) dengan pengalaman-pengalaman keseharian sebagai manusia, yang pada gilirannya juga terhubung secara kreatif dengan “orang-orang lain”. Keberagamaan itu sendiri – yang dihayati sebagai implementasi nilai-nilai religius – mewujud dalam bentuk-bentuk simbolik, seperti ritual ibadah, simbol-simbol, tafsir kitab suci yang dikorelasikan dengan kenyataan hidup, dan juga etika beragama.

Setiap agama memiliki sistem etikanya sendiri. Artinya, dalam sejarah suatu agama para penganutnya selalu mencoba mengorelasikan tafsir atas kitab suci dengan realitas kehidupan yang dialaminya. Jadi, sistem etika keagamaan selalu berada dalam jalur dialogis antara tafsir kitab suci (yang diyakini sebagai sumber nilai religiositas) dengan pengalaman keseharian. Dalam arti itu, etika adalah suatu sistem pemikiran yang kritis dan dinamis, karena berlangsung dalam kreativitas hermeneutis untuk mencermati dan menanggapi setiap perubahan yang terjadi pada setiap zaman.

Dalam buku ini, Verne H. Fletcher mengelaborasi sebuah sistem etika yang bersumber dari tafsirnya atas Alkitab, yang menjadi sumber sekaligus fondasi keberimanan umat Kristen. Namun demikian, Fletcher mengakui bahwa, sebagai bidang studi, “etika meneliti dan menilai tabiat dan tingkah laku manusia dari sudut normatif” (hlm. 20). Dengan kata “penelitian” dan bukan “ajaran”, Fletcher memaksudkan buku bukan sebagai uraian historis atau ajaran resmi, melainkan uraian sistematis dan konstruktif.

Didahului dengan bagian Pendahuluan (bab 1), Fletcher mengolah isi buku ini menjadi tiga bagian ditambah dengan bagian bacaan tambahan, yang secara ringkas dapat dilihat sebagai berikut:

Bagian Pertama: terdiri dari tiga bab yang diawali dengan pengertian “etika” (bab 2), kemudian bab 3 yang mengulas tentang manusia sebagai “objek” penelitian etika dengan perhatian utama pada “kebebasan” dan “hati nurani”. Kebebasan manusia pada hakikatnya terkepung dalam pembatasan fisik (akibat penyakit, kecelakaan, perang dsb) dan pembatasan sosial (keadaan-keadaan dalam mana kehidupan orang terjepit dan tertekan karena struktur-struktur sosial dan ekonomi yang merintangi perkembangan berbagai kemampuan yang ada padanya). Sedangkan hati nurani bukanlah suara surgawi atau pembimbing yang tak pernah keliru, melainkan salah satu fungsi kepribadian manusia yang tidak sempurna bahkan sering keliru dan oleh karenanya perlu dididik dan didewasakan. Dalam bab 4 Fletcher membahas beberapa segi dari perdebatan yang terjadi belakangan ini mengenai teori dan metode etika. Apa yang hendak dituju ialah suatu etika kontekstual dimana ada konteks yang harus dicermati, yaitu [1] konteks situasi konkret yang sedang dihadapi; [2] konteks realitas baru yang telah diciptakan Allah dalam Kristus. Oleh karena itulah, sekalipun sumbangan filsafat dan ilmu pengetahuan tak boleh diabaikan etika Kristen, sumber-sumber alkitabiah perlu digali dengan sungguh-sungguh yang pada gilirannya menciptakan tiga pola etika – heternonomi, otonomi dan teonomi.

Bagian Kedua: dimulai dengan bab 5 yang membahas titik tolak etika Kristen yang seyogianya bertumpu pada pola teonom. Namun jika demikian, kita akan terbentur pada kenyataan bahwa hubungan hakiki itu tidak berjalan semestinya. Etika kristen, menurut Fletcher, tidak mulai dengan apa yang wajib kita lakukan tetapi dengan apa yang telah dan terus-menerus Allah sudi lakukan. Etika tentu saja berurusan dengan perbuatan-perbuatan manusia, tetapi terlebih dahulu semuanya harus diletakkan dalam perspektif prakarsa ilahi. Titik tolaknya adalah anugerah Allah. Berhadapan dengan kenyataan bahwa kekristenan dibangun di atas landasan hermeneutika Perjanjian Lama, Fletcher menelusuri bentuk dasar etika Perjanjian Lama (bab 6) dan melanjutkannya pada bab 7 dengan pertanyaan: apakah hukum Taurat masih memegang peran dalam kehidupan Kristen? Pertanyaan tersebut membawanya menjelajahi pandangan-pandangan “warisan reformasi” (Luther, Calvin, Althaus), menelisik hubungan Yesus dan Hukum Taurat, lalu Paulus dan Hukum Taurat. Pada bab 8 ia merekonstruksi etika Kristen dan realitas baru dalam Kristus. Penekanan Paulus pada Kristus yang dimuliakan membawa Fletcher pada kesimpulan bahwa Paulus begitu terpesona oleh citra Kristus yang bangkit sehingga ia (Paulus) sama sekali tidak menaruh perhatian pada Yesus dari Nazaret atau Yesus historis. Dalam pemikiran Paulus, “Tuhan yang mulia tidak pernah terlepas dari Yesus historis” (hlm. 203).

Bagian ketiga: Fletcher mengelaborasi pencitraan Yesus sebagai manusia baru. Ia melihat bahwa di kalangan Kristen lazim terdengar pernyataan “Yesus adalah Kristus” (bab 9). Tetapi yang tidak kalah penting adalah pernyataan “Kristus adalah Yesus” yang berarti bahwa Kristus identik dengan seseorang yang dikenal secara historis sebagai Yesus dari Nazaret. Jika akar historis itu terputus atau dikaburkan maka “Kristus” cenderung berubah menjadi suatu gagasan mistik atau suatu dogma yang terisi keinginan dan idaman kita. Sang Kristus adalah Yesus yang tersalib. Dengan membangkitkan Yesus, Allah menegaskan bahwa Yesuslah yang benar. Bagaimanakah memahami Yesus yang historis itu? Di sini Fletcher tidak menghindari persinggungannya dengan kajian Yesus historis. Baginya, Injil-injil lebih bersifat jendela yang melaluinya sungguh terpancar wajah Yesus sendiri. Di situ kita dapat menemukan Yesus sebagaimana Ia diingat dan sekaligus ditafsirkan. Di balik ulasan-ulasan Injil, yang tentu berbeda satu sama lain, tampak jelas satu gambaran yang utuh, yang terbentuk dalam konteks sosial-politik tertentu. Lebih lanjut, pada bab 10, Fletcher memperlihatkan bahwa pola perilaku Yesus menjadi pedoman yang konkret bagi cara hidup dan perilaku sosial orang Kristen. Jadi, penggambaran pribadi tertentu beralih kepada serangkaian panduan bagi sikap dan kelakuan Kristen, yang tentu berakar pula pada pribadi yang sama. Lalu Fletcher mengulasnya dalam bentuk panduan (ada lima panduan).

Pada bagian paling akhir dari bukunya ini, Fletcher menambahkan 14 artikel yang ditulis oleh para pakar teologi, antara lain Boenhoeffer, Kung, dll.

Secara keseluruhan dengan membaca buku ini para pembaca diajak untuk menjelajahi wilayah kajian etika Kristen secara komprehensif. Memang sesuatu yang tak terhindari bahwa penjelajahan tersebut mau tidak mau akan berjumpa dan berdialog dengan sejarah pemikiran Kristen, filsafat, matra-matra teologis yang lahir dari interpretasi alkitabiah. Itu sebabnya, Fletcher pun rupanya sedikit kewalahan dalam menyederhanakan bahasa kajiannya. Namun demikian, toh buku ini tetap menarik untuk menjadi referensi utama dalam memahami keluasan ranah etika (Kristen) yang memang tidak sederhana itu.

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: