Posted by: katabuku | December 19, 2007

Bermain Dengan Api

bermain dengan api

Subjudul: Relasi Antara Gereja-gereja Mainstream dan Kalangan Kharismatik Pentakosta; Penulis: Rijanardus van Kooij & Yam’ah Tsalatsa A.; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2007

Jemaat bertumbuh dalam suatu ruang dan waktu tertentu. Pengakuan iman bahwa “jemaat” atau “gereja” adalah persekutuan umat Allah, mesti dengan segera disertai oleh kesadaran kontekstual bahwa persekutuan itu masih berada di dunia dengan seluruh kompleksitasnya. Sejarah gereja-gereja (Katolik Roma dan Protestan) dan gerakan-gerakan Kekristenan di dunia, yang berimbas pula ke Indonesia, secara jelas memperlihatkan dinamika internal kehidupan suatu gereja dan juga dinamika hubungan antargereja dan/atau aliran keagamaan (dalam hal ini, Protestantisme). Hubungan-hubungan tersebut tidak selamanya manis. Malah, lebih sering ditandai oleh ketegangan dogmatis dan praktis, yang berujung pada skisma atau perpecahan.

Buku ini mencoba untuk mengupas dimensi-dimensi ketegangan antargereja – yang disebut “gereja mainstream” (GM) dan “kalangan kharismatik pentakosta” (KKP) – dalam konteks Indonesia. Analisis dibangun melalui suatu proses penelitian yang komprehensif dengan memadukan dua hampiran penelitian (kualitatif dan kuantitatif) secara kreatif. Dasar dan kerangka teoretik dari kajian dalam buku ini dijelaskan pada bab 1, yang dapat dilihat sebagai proposal penelitian.

Meskipun sasaran penelitian adalah kelompok GM dan kelompok KKP, tetapi pada bab 2 perhatian lebih ditujukan kepada kajian sejarah kalangan kharismatik dan neo-pentakosta. Bab ini memberi informasi historis yang sangat penting untuk memahami terbentuknya embrio kalangan kharismatik dan neo-pentakosta, yang jarang diketahui oleh warga jemaat GM.

Hasil penelitian terurai dalam bab 3 yang mencoba melukiskan hubungan GM dan KKP. Beberapa faktor penting yang selama ini ditandai sebagai pangkal “konflik” antara GM dan KKP diuraikan secara cermat. Uraian hasil penelitian di sini dilengkapi dengan kutipan-kutipan pendapat hasil wawancara sehingga menampilkan suatu penjelasan yang komprehensif dan sedapat mungkin berimbang.

Penulis buku memberikan ruang khusus untuk membahas kalangan kharismatik dan pentakosta dalam konteks Indonesia pada bab 4. Di sini dilakukan pemerian (deskripsi) terhadap gejala-gejala urbanisasi dan globalisasi, pluralitas dan proses institusionalisasi di dalam konteks Indonesia, dan bagaimana KKP menjawab kebutuhan-kebutuhan dari konteks tersebut. Salah satu hal yang menarik ialah penjelasan bagaimana ciri-ciri spiritualitas dalam masing-masing budaya (dalam hal ini, Jawa-Batak-Tionghoa) membuat seseorang tertarik dengan KKP. Kesimpulan dan rekomendasi pada bab 5 merupakan upaya kristalisasi seluruh eksplorasi dalam buku ini.

Sebagai suatu hasil penelitian, kajian dalam buku ini memberikan kepada setiap orang yang berminat pada pembangunan jemaat dan kehidupan oikumenis, suatu perspektif yang kritis dan segar, serta up-to-date mengenai realitas Kekristenan khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, buku ini layak untuk dijadikan referensi utama bagi pendeta, anggota jemaat, mahasiswa teologi, peminat teologi praktis, komunitas lintas agama dalam memahami hubungan-hubungan eklesial maupun keagamaan (secara sosiologis-teologis) yang lebih produktif dalam konteks masyarakat yang terus-menerus digempur oleh arus perubahan.

Steve Gaspersz


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: