Posted by: katabuku | April 24, 2008

Memandang Yesus: Gambar Yesus Dalam Berbagai Budaya

Penulis: Anton Wessels; Penerbit: BPK Gunung Mulia 1999

Jika kepada seorang anak Sekolah Minggu ditanyakan gambar siapakah yang sering ia lihat di gereja atau melalui alat peraga guru Sekolah Minggu, maka sontak ia akan menunjuk gambar “Tuhan Yesus”. Ya, kita memang telah mewarisi suatu gambar Yesus secara turun temurun, setidaknya dalam pewarisan tradisi Kekristenan. Suatu gambar yang kerap tanpa sadar kita anggap sebagai foto diri Yesus. Foto diri Yesus itu pun sering kita jumpai sebagai penanda Kekristenan, di kamar, rumah, kantor, bahkan fitur-fitur handphone, dsb. Malah, begitu kuatnya pencitraan Yesus melalui “foto” semacam itu, kita pun turut menyakralkannya.

Anton Wessels, guru besar bidang ilmu agama dan misiologi di Vrije Universiteit Amsterdam, dalam karyanya ini mencoba memetakan proses pencitraan Yesus selama beberapa kurun waktu dan di beberapa kontinen. Suatu proses pencitraan yang sangat dipengaruhi oleh kadar teologis dan estetis yang berbeda-beda, sehingga pencitraan Yesus muncul secara multirupa. Dengan perkataan lain, Wessels hendak mulai dengan suatu keyakinan dasar bahwa gambar Yesus hanyalah suatu produk cita-rasa budaya manusia, dan karena itu tidak pernah akan ditemukan suatu gambar orisinil. Dengan demikian, diversitas pencitraan Yesus tidak perlu didebatkan tetapi dipahami sebagai apresiasi estetik kultural dengan kandungan pesan yang berbeda pula dalam berbagai konteks.

Wessels mengawali buku ini dengan menyeret kita dalam telusur sejarah gambar Yesus yang berubah-ubah di Eropa. Augustinus dari Hippo pada abad ke-5 menyatakan bahwa tidak ada uraian rinci bagaimana rupa Yesus sebenarnya (qua fuerit facie non penitus ignoramus). Sejak semula Yesus digambarkan secara simbolis atau alegoris. Salah satu gambar yang paling disukai ialah gambar ikan (ikhthus), yang dianggap kependekan dari Iesous Khristus Theou Huios Soter – Yesus Kristus Anak Allah, Juruselamat. Demikian pula Alfa dan Omega dipakai sebagai monogram Kristus. Rupanya pada abad-abad pertama tanda salib masih belum berani dimunculkan karena pertimbangan keamanan. Tanda salib baru dimunculkan sesudah Konstatinus Agung mendapat suatu penglihatan tahun 312.

“Gambaran-gambaran” tertua dari Yesus dalam bentuk manusia terdapat dalam katakombe-katakombe di Roma dan dalam gereja di Doura Europos, sebuah benteng di tepi sungai Efrat. Di sana Ia dilukiskan sebagai seorang “Gembala yang Baik” yang masih muda dan tampan, suatu gambaran yang menjadi sangat populer dan digemari orang. Selanjutnya gambaran “gembala” dikembangkan sekaligus dengan gambaran sebagai “guru” (Clemens dari Iskandaria, ± 215) dan “gembala yang dapat bermain musik” – Yesus sebagai Orpheus sejati. Ada pula mosaik-mosaik di gereja St. Apollinare Nuova di Ravenna (Italia), yang lama menjadi tempat kedudukan pemerintah Kerajaan Romawi Barat, yang disebut sebagai peralihan dari kristologi teofani – kristologi yang menekankan Allah yang menyatakan diri, ke kristologi yang menekankan Allah yang menjadi daging.

Gambar-gambar yang beraneka ragam itu tidak bisa seluruhnya melulu dilihat sebagai hasil karya fantasi seorang seniman. Gambar-gambar tersebut menceritakan sesuatu mengenai kepercayaan pada abad-abad pertama dan mengenai sikap gereja muda sejak permulaan masa penganiayaan. Baru setelah kemenangan Konstantinus Agung, muncul gambar-gambar Yesus yang diambil-alih dari kultus kekaisaran dari zaman antik yang harus melambangkan kemenangan Kristus (Christus Victor), yang kemudian menjadi Kosmokrator atau Pantokrator (Raja Alam Semesta).

Setelah menelusuri jengkal-jengkal sejarah gambar Yesus yang berubah-ubah di Eropa, pada bab-bab selanjutnya Wessels memperlihatkan perkembangan pencitraan Yesus yang terjadi di luar Eropa. Wessels melihat bahwa pencitraan Yesus di Eropa sangat mempengaruhi “ekspor” citra Yesus ke benua-benua lain. Proses diseminasi citra Yesus itu salah satunya dimungkinkan secara masif melalui kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa. Oleh karena itulah, Wessels menapaki bagian pertama dengan mengembalikan Yesus ke akarnya, yaitu “Yesus adalah Orang Yahudi”. Baru kemudian serangkaian pencitraan Yesus dalam berbagai konteks yang berbeda, yang pada gilirannya melahirkan beraneka wajah Yesus – Kristus dari Muslim, Kristus yang Hitam, Kristus bangsa Afrika, Kristus berwajah Asia, Kristus dan Tao, dll.

Buku ini merupakan suatu pengantar kristologi kontekstual yang menempatkan kepercayaan kepada Kristus sebagai kepercayaan atau iman yang dinamis. Kristus yang merembes dalam berbagai kebudayaan manusia dan terekspresikan melalui berbagai media kultural. Tidak selamanya Kristus itu diterima dalam “keheningan”, malah dalam banyak benua bukan Eropa Kristus diterima dalam pergolakan sosial, penindasan rakyat melalui kolonialisasi, perbudakan, pemiskinan, dsb. Tetapi Kristus “impor” itu kemudian telah menjadi “milik sendiri” yang diolah, dihayati dan dimunculkan dalam ekspresi-ekspresi lokal. Dalam buku ini kita bisa melihat bahwa persoalan kita tidak terletak pada “seperti apa wajah Yesus”, tetapi pada “bagaimana menemukan Yesus dalam bahasa, seni, dan kebudayaan kita sendiri”. Kristus di dalam kita dan kita di dalam Kristus.

Steve Gaspersz


Responses

  1. salam…kenal…


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: