Penulis: Adji A. Sutama; Penerbit: BPK Gunung Mulia (cetakan pertama, 2007); ISBN: 978-979-687-410-1.
Pada 26 Februari 2007 Discovery Channel menayangkan film dokumenter The Lost Tomb of Jesus karya penulis/sutradara Simcha Jacobovici dan produser James Cameron tentang adanya makam Yesus Kristus dan keluarganya. Sepuluh peti mati (osuari) yang ditayangkan dalam film itu sebetulnya ditemukan 27 tahun lalu di Talpiot, Yerusalem, sebelum menjalani banyak pengecekan. Enam dari 10 osuari diklaim berisi tulang-belulang Yesus, Bunda Maria, Maria Magdalena, Matius, Josa (Yusuf saudara Yesus) dan Judah (kemungkinan anak Yesus).
Hasil penemuan makam Talpiot itu kemudian dimanfaatkan oleh sejumlah pakar Yesus historis untuk membuktikan bahwa Yesus sesungguhnya adalah manusia biasa yang pernah hidup dalam sejarah, yang berbeda sama sekali dari apa yang diyakini secara imaniah oleh kalangan umat Kristen. Salah seorang yang memanfaatkan hasil penemuan makam tersebut adalah James D. Tabor yang menulis buku Dinasti Yesus. Dinasti Yesus adalah rekonstruksi James Tabor mengenai “Sejarah Tersembunyi Yesus, Keluarga Kerajaan-Nya dan Kelahiran Kekristenan” (subjudul). Yesus historis yang direkonstruksi James Tabor sangat berbeda dibandingkan dengan gambaran Kekristenan mengenai “Yesus”. Yesus historis di sini adalah Yesus yang sepenuhnya beragama Yahudi, taat kepada Taurat dan mengajarkan ajaran Yahudi. Ia sudah mati, dimakamkan dua kali dan tidak bangkit dari antara orang mati.
Dalam buku ini, Adji Sutama (AS) berupaya memberikan tanggapan kritis terhadap argumentasi James Tabor dalam bukunya Dinasti Yesus. Pembedahan kritis AS terhadap Dinasti Yesus dilakukannya pada bab 1 – bab yang cukup tebal dengan 152 halaman – yang dimulai dengan sinopsis Dinasti Yesus. Pembedahan kritis selanjutnya dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama, kritik difokuskan pada harmonisasi James Tabor atas teks yang digunakannya untuk merekonstruksi Dinasti Yesus – dinasti Yahudi yang beriman Yahudi atau beragama Yahudi (Yudaisme) – terutama para tokohnya. Kritik tahap kedua ditujukan pada konteks yang lebih utuh, yaitu pada masing-masing teks yang digunakan Tabor. Pada tahap ketiga, kritik lebih meluas pada keseluruhan pemikiran Tabor dan rekonstruksi Dinasti Yesusnya. Pada tahap terakhir ini, AS menunjukkan “subjektivisme dan retorika Tabor” yang tampak “dalam inkonsistensi metode dan argumennya” (hlm. 118). Inilah yang disebut harmonisasi, yaitu “apa yang tidak dikatakan di dalam teks justru itu yang dikembangkan menjadi kemungkinan, lalu ditambah dan diharmonisasikan dengan kemungkinan lain, ditambah kemungkinan lain dan ditambah terus sehingga akhirnya memberi kesan kepastian atau kebenaran yang pasti, yang sesuai dengan pendapatnya”. Rekonstruksi Yesus historis yang sepenuhnya Yahudi dilihat AS sebagai sesuatu yang sah-sah saja. Masalahnya ialah ketika Tabor memaksakan pendapatnya menjadi semacam ideologi, tujuan menghalalkan cara. “Ia tidak peduli pada hermeneutik dan metode penafsiran yang dapat dipertanggungjawabkan”.Tabor tidak hanya memilih-milih teks PB yang dinilai mendukung pendapatnya, tetapi juga merekayasanya sehingga menjadi teks baru, “teks-historis”-nya. AS juga memperlihatkan inkonsistensi Tabor mengenai kebangkitan orang mati, yang – dalam hal ini kebangkitan Yesus – dianggap oleh Tabor sebagai ide hasil rekayasa Paulus.
Menurut AS, interpretasi Tabor dalam bukunya itu disebabkan karena kesalahan hermeneutik, suatu kesalahan dalam memahami dinamika kompleks dari komunikasi tekstual. Oleh karena itu, pada bab 2 AS membangun kerangka tafsir dengan pendekatan hermeneutik Kritik Naratif. Dalam komunikasi tekstual terdapat tiga unsur dasar: penulis, teks dan pembaca. Penulis dan pembaca hidup di dunia-nyata sehingga mereka dapat disebut penulis-nyata dan pembaca-nyata. Namun, di dalam teks Injil tidak ada penulis-nyata dan pembaca-nyata. Yang ada hanya penulis-imajiner dan pembaca-imajiner. Keduanya adalah hasil konstruksi penulis-nyata sekaligus rekonstruksi dari pembaca-nyata. Mengatakan bahwa dalam cerita Injil tidak ada penulis-nyata dan pembaca-nyata perlu dipahami sebagai suatu pembedaan atau pemilahan metodologis.
Isi teks Injil adalah kesaksian iman jemaat awal mengenai apa yang terjadi dan yang telah dipercaya sebagai tindakan Allah di dalam sejarah kehidupan mereka. Bentuk atau genre sastranya adalah cerita (story). Dunia-cerita Injil dapat dibedakan dari dunia-nyata jemaat awal, karena dunia-cerita adalah hasil konstruksi penulis-nyata sekaligus hasil rekonstruksi pembaca-nyata. Karena pembaca ikut merekonstruksi dan “membaca adalah menulis-ulang” maka dunia-cerita selalu berubah. Dunia-cerita memang dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan dari dunia-nyata. Sebab ketika mengonstruksi dunia-cerita itu, penulis-nyata juga “membawa masuk” dunia-nyata sebagaimana dialaminya secara historis dan eksistensial. Juga, ketika merekonstruksi dunia-cerita itu pembaca-nyata “membawa masuk” dunia-nyatanya sendiri. AS kemudian menempatkan “kebangkitan Yesus” ke dalam kerangka hermeneutik tersebut, sehingga terbentuk rekonstruksi sebagai berikut: [1] ada peristiwa historis: Yesus bangkit. Tidak ada saksi mata atas peristiwa ini; [2] ada peristiwa penampakan dari Yesus-yang-sudah-bangkit (Yesus-kebangkitan) yang disaksikan oleh jemaat awal; [3] peristiwa tanggapan atas penampakan Yesus-kebangkitan. Pengalaman perjumpaan dengan Yesus-kebangkitan yang menampakkan diri itu diimani jemaat awal sebagai tindakan Allah; [4] simbolisasi atau pengungkapan iman di dalam bentuk-bentuk bahasa komunikatif; [5] teologi, penjelasan atas apa yang sudah diimani dan yang sudah diungkapkan dalam bentuk-bentuk kebahasaan. Iman yang mencari pemahaman (hlm. 157-158).
Untuk memahami makna tubuh Yesus-kebangkitan, pada bab 3 AS memberikan ulasan dengan menggunakan titik berangkat atau asumsi iman, yang kemudian diikuti oleh penalaran akal untuk memperoleh pemahaman atas apa yang telah diimani. Prinsipnya adalah mengimani untuk dapat memahami dan bukan memahami untuk dapat mengimani (faith seeking understanding). Penjelasannya mengenai “tubuh-kebangkitan” dibagi ke dalam dua perspektif, yang disebut paradoks positif dan paradoks negatif (hlm. 166-170). Pada bagian selanjutnya dilakukan penelusuran atas pendapat beberapa teolog mengenai tubuh-kebangkitan, seperti James D. Tabor, Ioanes Rakhmat, Andar Ismail, F.O. van Gennep dan para teolog Injili.
Penemuan dan penelitian makam Talpiot dan isu makam keluarga Yesus menjadi perhatian AS dalam bab 4. AS menolak dugaan bahwa di balik isu makam Talpiot terdapat sentimen Yahudi terhadap Kekristenan, atau isu itu sengaja diarahkan untuk merusak sejumlah ajaran Kristen. Menurutnya, dugaan itu bertentangan dengan fakta bahwa ada banyak pakar dari berbagai latar belakang keagamaan, bahkan orang Yahudi sendiri, yang menentang kesimpulan bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus. Untuk lebih jelas, AS menampilkan profil enam dari sepuluh osuari yang ditemukan pada makam Talpiot yang diekskavasi oleh Israel Antiquities Authority pada 1980 (hlm. 199-203). Ulasan dilanjutkan dengan menampilkan alternatif dari Stephen Pfann, epigrafer dari University of Holy Land. Pfann terutama mengkritik film Jacobovici yang menganggap makam Talpiot sebagai makam keluarga Yesus. Menurut Pfann, makam itu adalah makam keluarga Yahudi pada umumnya. AS kemudian mengeksplorasi sejumlah data penelitian menyangkut nama-nama, cara penulisan nama, simbol-simbol, perhitungan statistik ala Feuerverger dan tes DNA. Kritik AS pada bagian ini ditujukan kepada sejumlah adegan “janggal” yang muncul dalam film The Lost Tomb of Jesus karya Simcha Jacobovici dengan produser James Cameron. Kejanggalan ini dibedah agar tidak membingungkan (atau menyesatkan?) publik karena Jacobovici menyebut filmnya sebagai film dokumenter.
Hubungan film ini dengan James Tabor nampak karena Tabor tampil berulang-ulang di layar film sebagai teolog yang menjelaskan sekaligus membela pendapat film ini (bahwa makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus Nazaret, termasuk makam Yesus). Pendapat film ini kurang lebih sama dengan pendapat Tabor: Yesus historis tidak bangkit melainkan dimakamkan dua kali.
Secara keseluruhan buku merupakan sebuah ulasan yang padat dengan data (dari berbagai sumber) dan interpretasi terhadap data, yang kemudian ditautkan secara kritis dalam konteks keberimanan masa kini. Dengan membaca buku ini, kita dihadapkan dengan suatu kenyataan yang tak terhindari bahwa “beriman” tidak berlangsung dalam suatu ruang hampa yang bebas nilai. Perkembangan media komunikasi memberikan kemungkinan yang sangat luas untuk memahami secara kritis aspek-aspek utama dan fundamental dalam iman Kristen, yang dengannya iman bertumbuh mendewasa dalam konteks yang menantang, bukan meninabobokan. Buku ini memberikan sebuah cara pandang yang cerdas dalam menyikapi isu-isu sensasional berkaitan dengan iman Kristen, tanpa harus terjebak dalam kejumudan yang mewujud dalam sikap anti-kemajemukan dan kekerasan-rohani. Apalagi jika sampai harus memberangus karya orang lain tanpa membangun sebuah jembatan dialog-dialektis. Semoga.
Steve Gaspersz

Kritik berikutnya dari sisi Islam adalah buku dengan judul “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah Pelurusan Sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus” diterbitkan oleh Restu Agung, 2008
Buku bisa dibeli ditoko buku Gunung Agung.
http://www.tokogunungagung.co.id/index.php?go=book_search&event=1&plu=445024&start=0
By: Arman on February 5, 2008
at 9:01 am
Trims mas Arman untuk infonya… wah asyik juga nih kalau satu waktu kita bisa bikin bedah buku bersama dari perspektif agama-agama tentang satu tema.
By: katabuku on February 8, 2008
at 10:47 am