Posted by: katabuku | August 17, 2011

Buah-Buah Roh

Subjudul: Menjalankan Riset Sosial Partisipatif di Belahan Dunia Selatan; Penulis: Frans Wijsen; Penerbit: Duta Wacana Christian University Press 2010 (diterjemahkan oleh Steve Gaspersz)

Perjumpaan antara kekristenan dan kebudayaan lokal telah berlangsung sepanjang sejarah. Di wilayah-wilayah bekas koloni bangsa-bangsa Barat, perjumpaan ini terutama telah menimbulkan banyak ketegangan yang berimplikasi pada lahirnya bentuk-bentuk kepercayaan baru sebagai hasil dialektika antara “injil” dan “budaya lokal”. Dialektika teologis antara “injil” yang dalam babakan sejarah peradaban manusia terbentuk dan menyebar dalam format budaya Barat (Eropa) dengan budaya-budaya lokal masyarakat koloni dan bekas-koloni. Benturan dan adaptasi berbagai pandangan dunia (worldview) tersebut melahirkan bentuk-bentuk kekristenan lokal yang khas.

Buku ini adalah terjemahan disertasi Frans Wijsen. Proses penelitian dilakukan di Sukumaland, Tanzania, Afrika dengan fokus pada agama rakyat (popular religion). Meskipun sudah ditulis dalam bentuk disertasi sejak 1990-an, namun jika disimak Wijsen mencuatkan sejumlah isu teologis penting berkaitan dengan pemaknaan injil dan pelbagai ekspresi budaya lokal di Sukumaland. Isu-isu teologis ini masih sangat relevan dalam konteks menguatnya tendensi-tendensi lokalitas dalam proses berteologi, terutama di negara-negara dunia ketiga.

Perkembangan teologi-teologi lokal yang bertautan secara eksistensial dengan agama-agama rakyat – melalui buku ini – dapat dilihat dalam perspektif “perlawanan” sekaligus juga “adaptasi”. Perlawanan rakyat dilakukan dengan memperkuat perspektif keagamaan lokal yang menandai identitas lokal mereka yang berbeda dengan identitas (agama) kaum penjajah (Kristen). Itulah menegaskan sang liyan (others). Sekaligus dengan itu kekristenan yang diterima tidak lagi menjadi sebuah penanda jumud karena telah mengalami asimilasi yang berlangsung dalam proses adaptasi dan internalisasi terus-menerus. Inilah yang kemudian menjadikan kekristenan bukan lagi milik sang liyan, tetapi milik mereka. Karena sudah menjadi milik mereka maka kekristenan itu pun mesti menampilkan identitas mereka (rakyat lokal).

Penelusuran Frans Wijsen dalam buku ini diperkuat dengan nalar metodologis yang sangat ketat. Penggambaran situasi problematik dalam penelitian lapangan begitu detil sehingga pembaca dapat melihat kerumitan dialektika perjumpaan nilai-nilai dan bentuk-bentuk kekristenan Barat dengan nilai-nilai dan bentuk-bentuk agama rakyat di Sukumaland. Ketegangan-ketegangan teologis mampu dicairkan dalam perspektif religius agama rakyat Sukumaland. Dan sebuah simbiosis religius pun terbentuk. Buku ini penting bagi para pembelajar teologi kontekstual dan juga perencana pastoral di jemaat karena membuka perspektif pastoral secara holistik melalui sebuah riset sosial partisipatif.

Steve Gaspersz

Posted by: katabuku | May 11, 2010

Allah Menyapa Anda

Subjudul: Mengenal Praktik Doa Lectio Divina; Penulis: Tony Jones; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2009

Spiritualitas pada hakikatnya merupakan inti dari religiositas atau keberagamaan. Setiap agama memiliki pola pembentukan spiritualitasnya masing-masing. Penguatan spiritualitas dapat dilakukan dengan berbagai latihan rohani melalui berbagai bentuk seperti doa, meditasi, puasa, dan sebagainya. Dengan perkataan lain, spiritualitas bisa didalami dan dihayati sebagai disiplin rohani untuk menciptakan suatu suasana meditatif dan keheningan yang membuka diri bagi kehadiran realisme transendental.

Meditasi individual dalam praktik keagamaan adalah salah satu cara atau upaya untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran dari simpang-siur lalu-lintas kognisi yang melelahkan jiwa manusia. Aksentuasi pada kerja rasional telah memberi beban berlebihan pada otak, yang pada gilirannya memengaruhi seluruh aktivitas dan metabolisme tubuh. Pikiran yang tenang akan memengaruhi peredaran darah dalam tubuh manusia. Kesadaran yang jernih akan mematangkan kepribadian manusia dalam meresponi tekanan-tekanan psikis dalam desakan kerja dan tuntutan hidup. Hidup menjadi terpenjara dalam rutinitas dan kerap kelebihan beban.

Sebagian besar dari kita tahu bahwa kekristenan bukanlah sekadar bagaimana cara seseorang hidup – banyak orang yang hidup seperti Kristus tetapi mereka bukan orang Kristen. Tony Jones menyatakan bahwa kita telah bertindak seakan-akan kekristenan hampir selalu melulu memikirkan hal-hal yang benar: cukup menghafal ayat-ayat Alkitab, sering pergi ke acara pendalaman Alkitab, banyak baca buku teologi. Padahal menjadi seorang Kristen sama sekali tidak seperti itu. Sebaliknya, kekristenan adalah sebuah jalan hidup. Orang-orang seperti Bunda Teresa, Fransiskus dari Asisi, Dietrich Bonhoeffer, dll, adalah sedikit contoh dari mereka yang memberi kita teladan untuk dipanuti dan diperjuangkan. Mereka telah membuat iman menjadi jalan hidup mereka. Gaya hidup inilah, gaya hidup Yesus, yang paling memberikan ilham bagi kita.

Bagi para murid Yesus, iman bukanlah sebuah daftar keyakinan atau suatu pengakuan iman, sebagaimana banyak kita lihat dalam banyak gereja. Selama tiga tahun mereka hidup bersama Yesus, iman mereka adalah ini: bangun setiap pagi, sarapan bersama dan pergi ke mana pun Yesus pergi. Sesungguhnya ini adalah hal yang cukup sederhana. Namun, inti kehidupan Kristen adalah bahwa mengikut Yesus menjadi suatu jalan hidup – bukan hanya sekadar sebuah daftar mengenai apa yang boleh dan tidak boleh atau suatu pernyataan untuk dikenang dan diucapkan.

Namun bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Itu terjadi dengan menyediakan sebuah ruang dalam kehidupan kita untuk Roh Kudus. Itu berarti menyingkirkan sebagian hal lain yang menghabiskan waktu dan tenaga kita, dan mengarahkannya kembali agar berfokus kepada Allah. Dalam tradisi Kristen, meluangkan waktu bagi Allah sering kali disebut disiplin rohani. Lectio Divina, praktik yang dijabarkan di dalam buku ini, adalah suatu metode untuk mengizinkan Roh Allah memasuki kehidupan kita. Anda ingin tahu? Kenapa tidak mulai membaca halaman-halaman berikutnya?

steve gaspersz

Posted by: katabuku | May 11, 2010

Jangan Gugurkan Aku!

Subjudul: Kesaksian tentang pergumulan dan pemulihan di seputar tindak aborsi; Penulis: Cheryl Chew; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2010

Perdebatan dan pro-kontra aborsi ibarat menentukan ungkapan klasik “mana yang lebih dulu: ayam atau telur”. Pro-kontra itu meluas hingga ke taraf perdebatan teologis, yang kerap tak jelas di manakah kita bisa memosisikan diri kita – yang sering pula dibingungkan antara nilai Barat dan nilai Timur. Nilai Barat dianggap liberal dan tak menghormati kemanusiaan sebagai ciptaan Tuhan. Sementara nilai Timur dianggap terlalu kolot dan tak sesuai dengan perjuangan manusia untuk membela kehendak bebasnya sendiri sebagai individu.

Buku ini tidak menyajikan kepada Anda perdebatan tak berujung mengenai boleh atau tidak boleh melakukan tindak aborsi. Melalui pemaparan narasi yang hidup, Cheryl Chew menghadapkan kepada kita realitas aborsi yang digumuli oleh sejumlah orang. Buku ini hendak menjadi suatu human living documents, yang dibaca oleh manusia lain agar menanggapi kemanusiaannya secara manusiawi, bukan dengan arogansi termasuk kepada sang calon manusia potensial.

Lebih dari 43 juta bayi digugurkan setiap tahun di seluruh dunia. Bisakah Anda membayangkan berapa banyak orang jenius, filsuf, dan mereka yang dilahirkan untuk memecahkan berbagai masalah dunia saat ini telah menjadi korban para pelaku aborsi. Bagaimana jika ibu Musa mengaborsinya ketimbang memilih untuk memperjuangkan kehidupan tokoh Alkitab itu? Bisakah Anda membayangkan jika Maria telah mengaborsi Yesus Kristus?

Tidak ada keegoisan yang lebih besar dibandingkan tindakan mengaborsi janin manusia demi alasan kenyamanan. Tidak ada tragedi yang lebih besar ketimbang aborsi. Aborsi merampas kehidupan dari intinya dan menyangkal nilai masa depannya. Aborsi merupakan ketidakpedulian terhadap tanggung jawab dan penyangkalan terhadap kewajiban. Aborsi adalah mencari kenyamanan bagi diri sendiri dengan mengorbankan anugerah yang berlimpah karena semua aborsi mengorbankan tanggung jawab.

Oleh karena itu, masalah aborsi bukanlah sekadar masalah mencabut nyawa, meskipun hal itu merupakan hasil akhir yang fatal. Lebih dari itu, aborsi merupakan penghancuran calon manusia potensial; suatu penyangkalan takdir. Aborsi adalah pembunuhan masa depan dan kematian suatu simpanan ilahi serta penghancuran investasi Yang Mahakuasa.

Buku ini merupakan karya paling mendalam sekaligus sederhana tentang masalah aborsi dan memaparkan pendekatan logis, sensitive, serta penuh kasih pada masalah yang sangat peka ini. Pemaparannya menarik Anda menuju dunia rahim yang sangat pribadi dan memampukan Anda mendengarkan hati, bukan sekadar detak jantung, dari calon manusia yang tidak berdaya, serta menangkap perasaan tenang dari seorang manusia yang masih berbentuk embrio.

Buku ini menantang setiap manusia rasional dan beradab untuk menelusuri masalah aborsi dengan lebih tenang. Jika Anda membacanya dengan hati, Anda pasti mampu menangkap suara hati calon manusia potensial yang atas nama kehendak bebas sedang terancam punah. Jika Anda tergerak menyebarluaskan pesan-pesan kemanusiaan dalam buku ini kepada sahabat maupun kerabat Anda, maka buku ini memiliki potensi untuk menyelamatkan jutaan nyawa dan melindungi banyak generasi dari budaya egois kita. Maukah Anda melakukannya?

steve gaspersz

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.