Posted by: katabuku | September 5, 2009

Iman Tidak Pernah Amin

Subjudul: Menjadi Kristen dan Menjadi Indonesia; Penulis: Steve Gaspersz; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2009

Beriman adalah suatu proses berziarah yang berlangsung seumur hidup. Hanya pada titik kematianlah kita berhenti beriman dalam kesadaran badaniah. Mungkin selanjutnya kita akan menjalani proses beriman dalam matra yang berbeda. Dengan demikian, beriman adalah proses, aktivitas, gairah, emosi, frustrasi, kegembiraan, kesedihan, dan kegelisahan.

Hidup kita sendiri seutuhnya adalah suatu gerak aksi dan refleksi dari apa yang kita imani. Dalam arti itu, aktivitas beriman tidak boleh dan tidak pantas dibekukan dan dibendung hanya pada satu “sikap” dan/atau “pandangan” yang serba tunggal. Semeriah warna kehidupan, demikian pula warna beriman menghiasi dan mencitrakan hidup kita. Dengan cara beriman semacam itu, Tuhan yang kita percaya bermatra “Maha” pun bergerak lincah mengunjungi kita, menegur kita, bercanda dengan kita, curhat dengan kita, layaknya sahabat sejati. Sentuhan Tuhan yang penuh kasih tidak mewujud dalam mukjizat spektakuler, tetapi melalui aliran pengalaman keseharian yang sangat kaya akan cerita.

Buku ini adalah sebentuk cara beriman yang mencoba menghimpun serpihan cerita yang sempat direkam dan direfleksikan ke dalam tulisan. Tulisan-tulisan dalam buku ini bukanlah kajian teoretik yang abstrak – kendati abstraksi tetap tak terhindarkan – melainkan secuil upaya merekam warna-warni beriman dalam pengalaman sehari-hari.

Ada 31 esai yang dihimpun dalam tiga rumpun refleksi: Bagian I – Indonesia dalam Ceritaku; Bagian II – Beragama dalam Indonesiaku; Bagian III – Beriman dalam Budayaku. Dengan demikian jelas bahwa peta ziarah spiritual Steve Gaspersz bermuara pada kutub-kutub “Indonesia” – “Agama-agama” – “Berteologi Kontekstual”. Dalam kutub “Indonesia”, Gaspersz mencoba menyelisik berbagai pergumulan dan kepedihannya menyikapi persoalan kebangsaan yang tampak makin ruwet, seolah-olah menarik bangsa ini mundur dari kesepakatan untuk mengindonesia dalam realitas kemajemukannya. Dalam kutub “agama-agama”, Gaspersz hendak menyelami realitas keberagamaan di Indonesia. Terakhir, dalam kutub “Berteologi Kontekstual”, Gaspersz lebih bereksplorasi dengan eksperimen-eksperimen memahami Sang Tuhan dalam tradisi Protestanisme dan kebudayaan lokalnya sebagai orang Maluku.

Dengan gaya bahasa lincah menggelitik, Steve Gaspersz mengajak kita merefleksikan semua pengalaman tersebut dan bersama-sama menemukan pesan bagi kita dan komunitas kita masing-masing, terutama dalam merajut kembali upaya untuk menjadi Kristen dan menjadi Indonesia. Inilah iman yang menolak didikte oleh sikap dogmatis tertentu, suatu iman yang tak pernah amin… [steve gaspersz]

Posted by: katabuku | September 5, 2009

Bagaimana Menjadi Orang Baik

Subjudul: Agar Hidup Anda Bermakna, Bahagia, dan Disukai Orang Lain; Penulis: Piero Ferruci; Penerbit: Libri 2009

Setiap orang memiliki potensi-potensi kebaikan dalam dirinya. Sayangnya, sering kali potensi-potensi kebaikan tersebut ditenggelamkan oleh berbagai kecenderungan pribadi dan kondisi-kondisi sosial yang lebih membuka peluang bagi menguatnya persaingan, permusuhan, pikiran negatif, ketidaksabaran, kesombongan, dan hal-hal lainnya yang negatif. Semua hal yang disebutkan terakhir tersebut pada gilirannya menyebabkan turunnya kualitas kehidupan manusia secara eksistensial.

Dalam buku ini Piero Ferrucci mengulas secara jernih dan sederhana bagaimana kita dapat membangkitkan kembali potensi-potensi kebaikan dan energi positif dalam diri kita, yang dengan semua itu kehidupan kita makin berkualitas tinggi baik dalam pengembangan kepribadian maupun relasi dengan orang lain. Berbagai peluang untuk melakukan ada di sekitar kita. Apa yang harus kita lakukan hanyalah melihat berbagai kesempatan untuk mengekspresikan dan menanamkan kebaikan; melihat ke sekeliling, dan di dalam rutinitas yang membosankan atau serangkaian tugas yang menekan, kita bisa menemukan saat-saat untuk melakukan kebaikan.

Bagi Ferrucci, setiap orang adalah baik menurut caranya sendiri. Namun kita tidak pernah menjadi orang baik yang terlepas dari rasa bersalah atau terpaksa. Tugas kita adalah menemukan bahwa hal-hal yang kita lakukan itulah yang terbaik dan memberi kepuasan, bahkan sukacita. Itu kunci bagi kita. Menjadi orang baik, kata Ferrucci, adalah cara paling sederhana untuk menjadi diri kita yang sesungguhnya. Masalah-masalah kemanusiaan hanya dapat diselesaikan oleh partisipasi dan inisiatif sejumlah besar orang, dan oleh perubahan kebudayaan yang mendalam. Namun adalah pandangan yang sempit kalau melihat kebaikan sebagai faktor yang remeh. Kebaikan tidak hanya mempunyai daya untuk menyelamatkan kemanusiaan – kebaikan sudah menyelematkannya.

Akhirnya, cara terbaik untuk memajukan kepentingan kita sendiri, untuk menemukan kebebasan kita sendiri, dan berlimpah dengan kebahagiaan kita sendiri, sering kali bukan dengan cara mengejar tujuan-tujuan ini secara langsung, melainkan dengan mengurus kepentingan orang lain, menolong orang lain agar bebas dari ketakutan dan kesakitan, berkontribusi pada kebahagiaan mereka. Bagaimana dengan Anda? Kalau Anda siap menjadi orang baik, buku ini akan memandu Anda memasuki “dunia” baru di mana kebaikan menjadi roh penggerak utama yang membawa Anda menemukan makna menjadi “orang baik” bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Selamat menjadi orang baik! [steve gaspersz]

Posted by: katabuku | September 5, 2009

Keadilan dan Perdamaian

Subjudul: Tanggung Jawab Kristiani dalam Pembangunan Dunia; Penulis: J. Milburn Thompson; Penerbit: BPK Gunung Mulia 2009

Setiap hari kita disuguhi beraneka macam berita melalui berbagai media massa. Gaya hidup kita pun sudah menjadi sangat tergantung pada keberadaan berbagai media. Rasanya kurang afdol kalau kita tidak memulai hari-hari kita tanpa membaca koran di pagi hari; atau setidaknya kita merasa kurang pas dan agak ketinggalan kalau dalam sehari kita tidak membaca atau mendengar atau menonton berita, entah dari media cetak ataupun media elektronik.

Tetapi benarkah dengan semua sajian berita tersebut kita telah benar-benar mengetahui realitas dunia dan masyarakat? Tentu saja tidak, karena media hanya menyajikan berbagai peristiwa “apa adanya” bahkan tanpa suatu analisis terhadap apa sebenarnya yang menjadi penyebab mendasar peristiwa tersebut dan apa saja dampak jangka panjangnya bagi umat manusia. Padahal, jika dicermati dengan saksama, seluruh peristiwa yang terjadi di dunia ini memiliki keterkaitan erat satu dengan yang lain. Malah, dampak dari satu peristiwa dengan kecepatan yang luar biasa merembet ke wilayah-wilayah dunia lainnya. Kita tidak akan mampu memahami akar dan dinamika suatu persoalan tanpa menyimak tautannya dengan peristiwa-peristiwa lainnya.

Penulis buku ini, J. Milburn Thompson, hendak mengajak kita untuk mencermati berbagai peristiwa global yang terjadi selama beberapa dasawarsa terakhir dengan lebih menukik pada akar-akar persoalan yang kerap luput dari perhatian kita. Dengan suatu analisis yang mendalam dan komprehensif Thompson menyajikan kepada kita suatu elaborasi fenomena masyarakat global dengan seluruh dampak-dampaknya disertai pengungkapan data yang akurat. Dengan seluruh paparannya dalam buku ini, Thompson seolah-olah membawa kita menjelajahi setiap pelosok dunia dan memperlihatkan kepada kita bagaimana persoalan-persoalan global muncul dan saling memengaruhi. Sekaligus, Thompson juga menantang komunitas-komunitas beragama – khususnya Kristen – untuk prihatin dan terlibat dalam proses pembangunan dan pemulihan masyarakat dunia yang sedang didera oleh berbagai masalah akibat dari keputusan-keputusannya sendiri yang tidak memperhitungkan lingkungan sosial maupun lingkungan alamiah planet bumi ini.

Perang, kerusakan lingkungan, kemiskinan, ketidakadilan, perlombaan senjata, perundingan damai, dan serangkaian masalah global, dihadapkan oleh Thompson secara gamblang, sambil mengajak kita menelusuri akar-akar persoalannya. Namun, Thompson tidak hanya berhenti pada tataran analisis sosial-politik saja. Ia selanjutnya juga menantang orang-orang Kristen, yang dalam perspektif Barat, untuk turut memikirkan dan bertanggung jawab mencari berbagai solusi atas seluruh persoalan tersebut. Thompson menyatakan dengan tegas bahwa orang-orang Kristen Barat mesti bertanggung jawab karena mereka telah menjadi bagian integral dari sistem dan tatanan masyarakat global yang timpang dan tidak adil.

Menurut Thompson, pada hakikatnya seluruh persoalan global yang terjadi saat ini bertumpu pada tiadanya rasa keadilan yang menyebabkan terjadinya krisis kepercayaan antarkomunitas dan antarbangsa. Ketiadaan rasa keadilan tersebut telah memicu sejumlah konflik antarkelompok, bahkan sampai pada taraf perang antarnegara, yang menimbulkan begitu banyak korban manusia. Pada titik itulah, Thompson mencoba untuk meletakkan seluruh persoalan global tersebut pada upaya-upaya menciptakan keadilan bagi sebagian besar umat manusia. Tentu ini bukan upaya yang mudah, karena sejarah dunia telah membentuk suatu struktur-struktur sosial yang lebih memberikan keuntungan bagi kelompok-kelompok dominan. Kelompok-kelompok inilah yang dengan sangat keras menentang upaya-upaya pembaruan tatanan sosial yang lebih adil – karena hal itu tidak menguntungkan mereka.

Justru di situ, menurut Thompson, komitmen kristiani sebagai pembawa damai diuji terus-menerus. Terutama bagi orang-orang Kristen Barat, ujian terberat adalah terus mempertanyakan apakah memang pesan-pesan kristiani masih relevan jika pada saat yang sama di dalam pesan-pesan itu mereka kemudian menyadari bahwa mereka harus melepaskan segala “kenyamanan” yang telah mereka nikmati sebagai konsekuensi sistem dunia yang tidak adil. Keadilan dan perdamaian lantas menjadi agenda utama setiap orang Kristen – baik di Barat maupun di wilayah-wilayah bukan Barat – untuk menyatakan tanggung jawabnya terhadap masa depan dunia yang lebih baik berlandaskan pada nilai-nilai kristiani yang diimaninya. [steve gaspersz]

Older Posts »

Categories